Rabu, 20 September 2017

Balita menderita kelainan jantung tinggal di tenda pengungsian

id Balita menderita kelainan jantung tinggal di tenda pengungsian
Balita menderita kelainan jantung tinggal di tenda pengungsian
Farida, ibunda Farel, balita yang menderita kelainan jantung yang tinggal sementara di tenda pengungsian saat dijenguk Kadis Kesehatan Kota Jambi, Minggu (19/3). (antarajambi.com/ist)
Jambi, antarajambi.com- Muhammad Farel, balita berusia 1,6 tahun menderita kelainan jantung terpaksa harus tinggal sementara di tenda pengungsian bersama orang tuanya akibat banjir yang menggenangi di wilayah Kelurahan Legok, Kota Jambi.

"Saat ini kami harus tidur di tenda pengungsian, sudah beberapa hari terakhir ini rumah saya terendam banjir," kata Farida, ibu Farel saat ditemui di tenda pengungsian wilayah Kelurahan Legok, Kota Jambi, Minggu.

Dalam beberapa hari terakhir rumah Farida yang terletak di Kelurahan Legok, Danau Sipin,Kota Jambi, itu dilanda banjir sehingga terpaksa dirinya bersama keluarga termasuk anaknya yang mendertia kelainan jantung itu harus tinggal di tenda pengungsian yang dididirkan pemerintah daerah setempat.

"Sekarang ikut tinggal di tenda pengungsian, saya khawatir tinggal dipengungsian akan mengganggu kesehatan anak saya ini, tapi ya mau bagaimana lagi," katanya.

Farida menceritakan, awalnya diketahui anaknya itu saat berusia sekitar 10 bulan mengalami panas tinggi dan sesak nafas yang kemudian langsung dibawa ke RSUD Raden Mataher Jambi untuk dilakukan perawatan.

"Dokter bilang  anak saya ini mengalami kelainan jantung atau Regurgitasi Katup, dan setelah saya cek  di rumah sakit untuk memastikan, ternyata  anak saya memang mengalami kelainan jantung," katanya.

Setelah mengetahui anaknya didiagnosa mengalami kelainan jantung itu dirinya langsung putus asa karena  membutuhkan biaya yang besar dan anaknya harus dirujuk ke RSCM Jakarta.

Kedua orang tua Farel tergolong warga yang kurang mampu, dan untuk keseharian suami Farida hanya bekerja sebagai pegawai honorer di Dinas Kebersihan Kota Jambi.

"Untuk biaya pengobatan sehari-hari anak saya saja saat ini masih menggunakan BPJS kesehatan, tidak cukup untuk biaya pengobatan di Jakarta karena harus membutuhkan uang kurang lebih Rp25 juta, saya hanya bisa berharap bantuan dari pemerintah," katanya.

Sementara itu Kabag Humas Pemkot Jambi, Abu Bakar mengatakan, saat ini tim pemerintah kota setempat  saat ini sedang mempersiapkan pengobatan anak yang menderita kelainan jantung untuk dirujuk ke Jakarta.

"Walikota Jambi saat mendengar kabar itu langsung bertindak dan sudah mengintruksikan Kadis Kesehatan untuk turun langsung melihat kondisinya, dan juga tim saat ini sedang mempersiapkan untuk merujuk ke Jakarta," kata Abu menambahkan.

Editor: Dodi Saputra

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga