Perahu "Kajang Lako" hiasi Batanghari

id berita jambi terkini, perahu kajang lalo,
Berbeda dengan perhelatan lomba pacu perahu tradisional sebelumnya di Sungai Batanghari, pada Minggu (14/5) belasan perahu "Kajang Lako" berhias khas Jambi menyemarakkan pesta rakyat di kawasan situs Tanggo Rajo, dekat Jembatan Gentala Arasy, Kota Jambi.

Tajuk kegiatan hari itu memang lomba pacu perahu tradisional dan perahu naga yang dilakoni oleh para pedayung perahu tradisional. Mereka beradu cepat di aliran sungai terbesar dan terpanjang di Sumatera itu.

Di kawasan itu hilir mudik perahu-perahu berhias dengan nuansa kuning dan putih yang disebut perahu "Kajang Lako". Seorang pembawa acara menyebutkan kehadiran perahu jenis itu pada ajang lomba pacu tersebut merupakan yang pertama kalinya.

Perahu Kajang Lako memang bukan untuk beradu pacu, namun perahu-perahu mesin tempel yang dibalut kain penghias itu tak kalah menarik dari aksi adu pacu. Perahu-perahu yang ditumpangi para camat dan lurah itu beradu menawan di arena lomba.

Perahu Kajang Lako selain beradu indah, menawan, dan adu keunikan, juga tak jarang melakukan manuver. Berbeda dengan penumpang perahu pacu yang berbaju "sporty", perahu Kajang Lako ditumpangi oleh penumpang berpakaian adat khas Jambi, Teluk Belango.

Para camat dan lurah yang mengenakan pakaian adat Teluk Belango menyapa ribuan warga yang memadati kawasan wisata air yang akrab disapa warga Jambi dengan sebutan kawasan Ancol itu.

Rata-rata perahu itu menggunakan ornamen hiasan berupa kepala angsa di bagian depannya dan bagian tengah perahu ditempatkan bangunan tempat berteduh.

Namun, ada pula peserta yang membuat hiasan kaligrafi Al Quran yang menyerukan kampanye membaca Al Quran, "One Day One Juz".

Perahu atau kapal terlahir sebagai jawaban atas tantangan alam perairan. Pada prinsipnya, jawaban atas tantangan alam perairan itu adalah segala sesuatu yang dibuat atau digunakan dapat dan mampu mengapung, mengangkut manusia dan bawaannya, dapat dikendalikan ke tempat yang dituju.

Apa perahu Kajang Lako. Masyarakat di kawasan perairan sungai besar, seperti Batanghari, sudah barang tentu memandang perahu merupakan salah satu bagian yang tidak bisa terpisahkan dari sejarah mereka.

Apa pengertian Kajang Lako, konon belum disepakati sepenuhnya. Perahu Kajang Lako adalah perahu yang digunakan oleh raja atau penguasa negeri yang diiringi oleh pengawal dan rombongan lainnya untuk berleko-leko, berarti santai, bersenang-senang, atau melakukan perjalanan inspeksi ke daerah-daerah bawahan.

Kata "kajang" berarti atap dan "lako" berasal dari kata "leko" yang awalnya "lela" (Melayu), yang mempunyai arti elok, gagah, kuat, gembira, bergaya, tampan menyegarkan badan.

Kini, perahu Kajang Lako dialamatkan sebagai sejenis perahu berhias indah, beratap untuk berteduh atau duduk-duduk. Di bagiannya tidak ada dinding.

Terkait dengan pemasangan profil angsa atau naga pada haluan perahu Kajang Lako, juga belum ada cerita yang detail. Profil itu lebih mewujudkan mitos naga atau sepasang angsa besar dalam kisah penemuan "Tanah Pilih Pusako Batuah" Jambi.

Pesta Rakyat

Pesta masyarakat Kota Jambi di kawasan perairan sungai legendaris di Sumatera itu, bagian dari Semarak Hari Jadi Ke-616 Tanah Pilih Pusako Batuah yang digelar Kota Jambi.

Ribuan warga Jambi pada Minggu (14/5) siang hingga petang tumplek memadati pinggiran Sungai Batang Hari di kawasan Kota Seberang maupun di kawasan objek wisata Jembatan Gentala Arasy.

Selain itu, ribuan lainnya berjejer di sepanjang jembatan berbentuk huruf "S" itu yang membentang, menghubungkan dari depan Rumah Dinas Gubernur Jambi hingga Gentala di depan Museum Gentala Arasy Jambi.

Suasana di kawasan itu penuh dengan suka cita. Sejumlah perahu hilir mudik mengangkut warga yang ingin menikmati suasana naik perahu di tengah perhelatan itu.

Dalam suasana tersebut, termasuk hilir mudik perahu Kajang Lako yang khusus dihadirkan untuk menambah unik kawasan itu.

Bahkan, sejumlah pengemudi perahu melakukan aksi, menampilkan kebolehan mereka, memacu perahu maupun bermanuver, sedangkan para remaja yang menaiki perahu, juga tak kalah beraksi dengan naik ke atap perahu sambil berdiri di atas perahu yang melaju di tengah arus Sungai Batanghari yang cukup deras waktu itu.

Di arena pacu perahu tradisional, sejumlah tim, salah satunya tim "Dewa Ruci" tampil digdaya dan menjadi juara pada lomba pacu perahu tradisional. Dalam sejumlah "race", mereka berlomba dalam kategori perahu jenis A, B, dan perahu naga.

Hadir pada kesempatan itu, Gubernur Jambi Zumi Zola serta Wali Kota Jambi Syarif Fasha. Mereka secara khusus melepas peserta lomba di garis awal dengan menggunakan tembakan pistol ke udara. Jenis olahraga perahu tradisional dan perahu naga itu, sebenarnya merupakan potensi untuk dikembangkan di Jambi.

Hal itu pula yang membuat lomba pacu perahu selalu menjadi bagian dari perhelatan baik HUT Pemprov Jambi, Kota Jambi, maupun kabupaten/kota lainnya di aliran Sungai Batanghari.

"Kegiatan lomba pacu perahu ini merupakan bagian mempertahankan budaya sebagai masyarakat perairan sungai. Semangatnya bahwa kita memiliki potensi besar di tanah ini yang harus terus digali dan dikembangkan untuk bisa memberikan kemakmuran bagi masyarakat," kata Wali Kota Jambi Syarif Fasha.

Kemeriahan lomba pacu perahu Semarak Hari Jadi 616 Tanah Pilih Pusako Batuah itu, tak hanya dilakoni masyarakat, namun juga menunjukkan kekompakkan sejumlah elemen penjaga keamanan aliran sungai itu.

Polda Jambi juga menurunkan Tim Polisi Perairan untuk mendukung kegiatan di kawasan itu. Sebuah kapal patroli perairan dikerahkan, juga sebuah superboat raftor dikerahkan serta didukung oleh petugas Polair yang siaga di atas perahu karet bermesin tempel disertai beberapa manuver dari mereka.

Selain itu, Basarnas Jambi juga siaga dengan mengerahkan sebuah kapal operasional serta beberapa perahu pendukung.

Demikian halnya Dinas Perhubungan Jambi. Sebuah kapal KPLP juga berlayar mendukung kegiatan itu, sedangkan puluhan perahu milik masyarakat secara sukarela mengawal setiap "race" lomba.

"Semuanya dilibatkan, kami senang bisa menjadi bagian dari kegiatan ini," kata salah seorang petugas Basarnas.

Lomba pacu perahu di kawasan itu sudah usai, namun spirit memacu potensi kawasan setempat tak pernah surut.

Upaya mengoptimalkan keunggulan dari sungai yang menjadi salah satu urat nadi perekonomian dan berperan besar dalam proses peradaban masyarakat di daerah itu, terus berlanjut.


Editor: Ariyadi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga