Minggu, 23 Juli 2017

Harapan di balik Festival Candi Muarojambi

id berita jambi terkini, harapan dibalik festival candi muarojambi, festival candi 2017, festival candi muarojambi
Harapan di balik Festival Candi Muarojambi
Jambi - Para penampil dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang membawakan tari kolosal peradaban saat pembukaan Festival Candi Muarojambi XIV tahun 2017 di kompleks Percandian Muarojambi, Jambi, Kamis (11/5). Festival tahunan yang menampilkan atraksi seni dan budaya setempat itu digelar 11-14 Mei 2017. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
Jambi, Antarajambi.com - Pemerintah Provinsi Jambi baru saja menggelar kegiatan besar, Festival Candi Muarojambi yang dipusatkan di kompleks percandian itu di Kabupaten Muarojambi, pada 11-14 Mei.

Uniknya, festival yang menjadi agenda pariwisata tahunan Pemprov Jambi itu kali ini dikolaborasikan dengan perayaan Waisak 2561BE/2017 dengan harapan mampu menyedot wisatawan nusantara dan mancanegara.

Niat pemerintah di balik memadukan dua kegiatan itu selain menjadi magnet wisatawan juga sebagai upaya untuk menjadikan Candi Muarojambi sebagai warisan dunia (world heritage).

Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli mengatakan persaingan menjadi kendala dalam penetapan Kompleks Percandian Muarojambi sebagai warisan dunia.

Sebab bangunan candi tidak hanya ada di Indonesia saja. Sementara dari Indonesia saja, ada beberapa daerah yang juga memiliki potensi untuk diusulkan menjadi warisan dunia.

Kompleks Percandian Muarojambi sebelumnya telah diajukan pendaftarannya ke UNESCO sejak tahun 2009 dan telah masuk dalam tentative list.

Pemerintah Provinsi Jambi, kata Zola, pada 2016 telah berupaya dengan membentuk tim khusus untuk mengkaji dan mempercepat agar Kompleks Percandian Muarojambi ditetapkan sebagai warisan dunia.

"Dengan tim itu kami menyusun segala peryaratan yang harus dilengkapi, dan tentu itu tidak mudah mengajukan dan butuh waktu berkesinambungan," katanya usai membukan Festival Candi Muarojambi, Kamis (11/5).

Dari tim yang telah dibentuk, kemudian dikordinasikan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan dievaluasi apa yang masih kurang yang selanjutnya dilengkapi.

Zola menjelaskan, banyak pertimbangan pada Kompleks Situs Percandian Muarojambi sehingga harus dijadikan sebagai warisan dunia, salah satunya merupakan kompleks candi yang sangat luas dan memiliki nilai sejarah.

Berdasarkan catatan sejumlah arkeolog, Candi Muarojambi diperkirakan dibuat pada abad ke 6-7 Masehi.

Kompleks Percandian Muarojambi yang merupakan terluas di Indonesia itu pada beberapa abad silam adalah sebagai kampus atau pusat pendidikan ajaran Buddha.

Sebab itu, Zola menyatakan kesiapan Provinsi Jambi untuk menjadikan Candi Muarojambi sebagai warisan dunia. Pemerintah kabupaten dan pusat serta seluruh pihak terkait akan terus berupaya memperjuangkan agar masuk warisan dunia.

Zola juga menegaskan, dua agenda yaitu perayaan Waisak yang dipadukan dengan Festival Candi Muarojambi juga merupakan bagian dari upaya memperjuangkan supaya Candi Muarojambi menjadi warisan dunia.

"Rangkaian kegiatannya mulai Waisak ada melepas lampion, kemudian pembukaan festival, kuliner UMKM, tampilan budaya dari kabupatan/kota. 100 lebih bhiksu dan umat Buddha sekitar 6.000 orang, dan wisatawan juga ada dari Palembang, Jakarta bahkan Malaysia," katanya.

Zola berharap, ke depan acara ini bisa terus dilakukan dan bahkan bisa dijadikan kegiatan internasional. Sebab agenda tersebut yang diselenggarakan setelah umat Buddha meggelar ritual Waisak itu mampu menyedot pengunjung yang datang ke kawasan kompleks percandian terbesar di Indonesia.

Wisata Religi

Deputi Bidang Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata, Esthy Reko Astuty saat pembukaan Festival Candi Muarojambi, Kamis (11/5), mengatakan bahwa kompleks situs percandian Muarojambi menjadi potensi wisata religi dan sejarah yang harus dikembangkan sehingga dapat menarik kunjungan wisatawan.

"Situs Percandian Muarojambi yang kuat di sini adalah sebagai destinasi wisata religi atau spiritual umat Buddha," kata Esthy.

Festival Candi Muarojambi yang dikolaborasikan dengan perayaan Waisak 2561BE/2017 itu dapat menjadi potensi dan strategi yang kuat dalam mendatangkan kunjungan wisatawan.

"Pada Festival Candi Muarojambi kali ini juga ada wisata budaya, religi dan juga situs bersejarah. Maka jika itu dikemas dengan baik akan lebih banyak mendatangkan wisatawan," katanya.

Ia mengatakan Festival Candi Muarojambi telah rutin diadakan setiap tahun sehingga semakin ke depan keberlangsungan ajang wisata tersebut dapat terus berkembang dengan beragam inovasi dan kreativitas.

Pada Festival Candi Muarojambi yang dibuka setelah umat Buddha melaksanakan serangkaian detik-detik perayaan waisak itu dapat menjadi ikon pariwisata yang digelar setiap tahun.

"Seperti ini bisa menjadi ikon ajang pariwisata di Provinsi Jambi dan kami mendukung dengan upaya pemasaran yang terkait ajang pariwisata seperti ini," kata Esthy menjelaskan.

Sebelum pembukaan festival itu ada ribuan umat Buddha yang terlebih dahulu melakukan prosesi waisak di pelataran Candi Gumpung yang merupakan bangunan candi utama di kawasan itu.

Dalam Festival itu juga ada sejumlah kegiatan seperti pameran bazar UKM, penampilan kesenian kabupaten dan kota, senam sehat, festival band, qasidah, seloko adat, kuliner tradisional, tari kreasi, kompangan, bujang gadis Muarojambi serta pesta Kanal Kuno.

Kawasan percandian Muarojambi itu memiliki 82 reruntuhan (menapo) bangunan kuno. Saat ini sudah ada delapan bangunan candi yang telah dilakukan ekskapasi atau pemugaran dan pelestarian secara intensif oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi.

Wisata Jelajah Hutan

Selain wisata religi, pengunjung Candi Muarojambi juga bisa menikmati wisata jelajah hutan atau jungle tracking di kawasan candi terluas di Asia Tenggara itu.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekda Provinsi Jambi Erwan Malik, mengatakan bahwa objek wisata "jungle tracking" di Kawasan Komplek Percandian Muarojambi itu sangat memuaskan dan mengasyikkan. Namun masih kurang diketahui oleh masyarakat.

Sebab itu menurutnya objek wisata jelajah hutan yang merupakan rangkaian kegiatan Festival Candi Muarojambi itu perlu promosi dan pembenahan yang lebih serius.

"Kita akui ini kurang promosi, ini perlu promosi dan dikemas dengan lebih baik lagi. Dan saya yakin apabila sudah dikemas dengan baik tidak secara amatiran lagi, maka ini akan menjadi industri pariwisata," katanya usai mengikuti "jungle tracking" di kawasan candi tersebut, Sabtu (13/5).

Menurut Erwan, objek wisata jelajah hutan di kawasan Kompleks Percandian Muarojambi perlu mendapat perhatian dan promosi agar masyarakat Indonesia bahkan dunia dapat mengetahui dan turut menikmati indahnya alam di kawasan tersebut.

Selain meningkatkan promosi, Erwan mengatakan bahwa penataan kawasan juga perlu ditingkatkan, dengan tetap mempertahankan keaslian dan keasrian alam, karena alamnya begitu indah.

Rute yang ditempuh dalam "jungle tracking" ini adalah start dengan berjalan kaki menyusuri kebun-kebun karet warga dan hutan di Desa Danau Lamo, menyusuri pinggiran sungai dengan jembatan kayu, dilanjutkan dengan naik perahu di Kanal Kuno Sungai Medak.

Turun dari perahu, berjalan kaki lagi menuju kawasan Candi Koto Mahligai, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan naik perahu menyusuri Kanal Kuno menuju Candi Kedaton dan finis.

Erwan mengungkapkan, bentuk dukungan dari pemerintah sendiri baik provinsi maupun Kabupaten Muarojambi dalam upaya mengembangkan objek wisata di kawasan itu, yakni berkoordinasi dan bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dalam membantu menyiapkan sarana dan prasarana pendukung.

"Saya yakin dari tahun ke tahun kawasan cagar budaya Kawasan Percandian Muarojambi akan berkembang. Harapan kami kepada masyarakat sekitar kawasan candi mari kita sama-sama menjaga keamanan dan ketertiban sehingga siapapun yang berkunjung merasa nyaman dan aman. Ini yang paling pokok sekali," ujarnya.

Sementara itu, Penjabat (Pj) Bupati Muarojambi, Kailani mengatakan bahwa obyek wisata "jungle tracking" merupakan wisata yang sangat sensasional dan alamiah serta memiliki nilai jual, dan objek wisata ini tidak mudah ditemukan di tempat-tempat wisata yang lain.

"Saya rasa ini yang perlu kita angkat untuk kita jadikan objek yang dijual dan punya pangsa pariwisata tersendiri. Kemampuan untuk menjual daya saing inilah yang perlu kita kerja sama dan berkolaborasi dengan semua unsur pemangku kepentingan," kata Kailani.

Sedangkan untuk SDM masyarakat lokal sendiri yang nantinya akan menjadi pemandu wisata (guide) khususnya dalam "jungle tracking" itu. Sepertinya, kata Kailani, sudah cukup bagus dan terlatih dengan baik.

"Mereka sudah banyak yang mengikuti berbagai pelatihan baik itu untuk guide maupun industri-industri kecil dan sebagainya. Tapi ini memang ada keterbatasan juga karena aspek-aspek yang menyangkut legalitas manajemennya, karena kewenangan untuk itu ada di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan khususnya Dirjen Kebudayaan, maka kita tidak bisa masuk dalam konteks kepariwisataannya secara lebih luas," katanya menjelaskan.

Dengan segala upaya yang dilakukan Pemprov Jambi, Pemkab Muarojambi dan pemerintah pusat itu, diharapkan Candi Muarojambi ke depan mampu menjadi salah satu warisan dunia.(***)


Editor: Dodi Saputra

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga