Minggu, 24 September 2017

Bio Farma-LIPI kerjasama buat serum anti bisa ular

id bio farma
Bandung, Antarajambi.com =  Bio Farma dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menandatangani Perjanjian Kerjasama untuk pengembangan Serum Anti Bisa Ular Hijau.

Penandatanganan ini dilakukan oleh Juliman selaku Plt. Direktur Utama Bio FArma Juliaman dengan Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI Witjaksono dalam acara Forum Riset Life Science Nasional 2017 di Jakarta, 30 Agustus 2017. 

Pengembangan Serum ini merupakan kerjasama penelitian antara Bio Farma dengan Laboratorium Herpetologi, Pusat Penelitian Biologi LIPI di Cibinong. Harapannya, melalui kerjasama ini, dalam waktu yang tidak terlalu lama, Indonesia akan mampu memenuhi kebutuhan Serum Anti Bisa Ular dalam negeri dengan jenis ular yang beragam.

Ruang lingkup kerjasama ini meliputi pengidentifikasian ular hijau dan karakterisasi dari bisa ular berikut publikasi ilmiahnya.

Menurut Witjaksono, kerjasama ini dilatarbelakangi oleh masih sedikitnya ketersediaan Serum Anti Bisa Ular yang beredar di masyarakat dibandingkan dengan jenis ular berbisa yang ada di Indonesia, “Selama ini Serum Anti Bisa Ular yang ada di Indonesia, baru menyembuhkan dari tiga jenis gigitan ular saja yaitu ular tanah (Calloselasma rhodostoma), ular kobra (Naja sputratix) dan ular welang (Bungarus fasciatus). 

Sehingga apabila seseorang tergigit ular di luar tiga jenis ular tersebut, tidak akan bisa disembuhkan dengan serum anti bisa ular yang saat ini tersedia di pasar. Hal ini dikarenakan sifat racun ular yang spesifik”, ujar Witjaksono. 

Sementara itu, peneliti LIPI, Dr Amir Hamidy, mengatakan kondisi wilayah Indonesia yang luas menyebabkan Indonesia memiliki jenis ular yang banyak yakni sekitar 343 jenis, dan 76 diantaranya adalah ular berbisa yang dapat menyebabkan perdarahan atau gangguan sistem syaraf. “Dari masing2 jenis bisa ular tersebut, memiliki sifat yang spesifik sehingga anti bisa ularnya pun harus spesifik pula yang diambil dari jenis ular tersebut, dan sampai saat ini, kita baru memiliki Serum Anti Bisa Ular yang terbatas sehingga memerlukan tambahan jenis serum anti bisa ular”, Ujar Amir. 

Maharani, satu peneliti senior Bio Farma yang tergabung dalam pengembangan anti bisa ular hijau ini mengatakan bahwa penelitian ini diharapkan tidak lebih dari dua tahun, hanya saja untuk uji klinisnya yang memerlukan waktu yang cukup lama “Ada perbedaan yang mendasar pada uji klinik vaksin dan serum, kalau di uji klinik vaksin, kita memerlukan orang yang sehat, sedangkan pada serum kita memerlukan pasien yang mengalami gigitan ular” ujar Maharani. 

Maharani menambahkan Pengembangan Anti Bisa Ular Indonesia akan terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan di seluruh Indonesia, yang karena letak geografisnya menyebabkan perbedaan jenis ular di Indonesia bagian Barat, Tengah,Timur dan Papua.

Editor: Syarif

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga