Provinsi Jambi mengekspor perdana produk hasil hutan bukan kayu berupa Minyak Kepayang yang merupakan produk satu-satunya di Indonesia, sebanyak 400 kilogram ke Belanda.

"Saat ini memang ekspornya masih sedikit, tapi ini menjadi awal dan penyemangat masyarakat di sekitar kawasan hutan untuk lebih banyak memproduksi," kata Kepala UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Limau Unit VII Sarolangun, Jambi, Misriadi di Jambi, Sabtu.

Ekspor Minyak Kepayang sebanyak 400 kilogram atau dengan nilai transaksi Rp48.000.000 itu diekspor ke Unifar yang merupakan perusahaan kosmetik yang berkedudukan di negeri kincir angin.

"Minyak Kepayang ini adalah satu-satunya produk yang langka. Dan untuk produk yang diekspor ini juga telah mendapat lisensi untuk bahan kosmetik yang aman," katanya menjelaskan.

Ekspor perdana produk tersebut, juga turut disaksikan Gubernur Jambi, Fachrori Umar dalam Hari Bakti Rimbawan ke-36 di Provinsi Jambi.

Produksi Minyak Kepayang tersebut, dikelola oleh wadah koperasi yang beranggotakan kelompok masyarakat Desa Sungai Beban, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun.

Minyak Kepayang itu dihasilkan dari buah tanaman kepayang (pangium edule) yang merupakan salah satu tanaman bernilai ekonomi dan konservasi yang tinggi.

"Sekarang untuk produksinya memang masih terbatas, karena membutuhkan waktu yang lama, dan juga untuk bahan bakunya masih berasal dari hutan," kata dia.

Satu kilo daging buah kepayang menghasilkan 0,3 gram minyak kepayang. Sementara untuk 10 kilogram daging kepayang menghasilkan 3 kilogram hasil olahan minyak kepayang.

"Minyak Kepayang ini memiliki kandungan non-kolestrol dan juga kalau untuk bahan kosmetik juga kandungannya diatas minyak zaitun," katanya menambahkan.
 

Pewarta: Gresi Plasmanto

Editor : Ariyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2019