YELLO Hotel akan hadir di Jambi dengan mengusung konsep kekinian. Kehadirian hotel ekonomi itu ditandai melalui melalui upacara penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh perwakilan dari TAUZIA International Management dan PT. Rajato Mitra Sentosa Hotelindo di Restoran Casa De Alicia, Kamis (11/4).

Penandatanganan MoU itu dilakukan Perwakilan dari TAUZIA International Management, Armand Steinmeyer, beserta Ronny Attan selaku Direktur Utama dan Heriyanto selaku Direktur dari PT Rajato Mitra Sentosa Hotelindo.

Penandatanganan itu sekaligus mengkonfirmasi hadirnya YELLO Hotel di Kota Jambi, yang akan diresmikan pada awal tahun 2020.

YELLO Hotel berupa merek hotel ekonomi dari TAUZIA International Management dengan tujuan melayani para netizen yang tech-friendly. Berbeda dari merek-merek hotel pada umumnya, YELLO Hotel membawa image non-conformist, sociable dan juga “Get Wired”(terhubung kapan saja).

YELLO menekankan gaya nyentrik dengan fasilitas yang asyik, dan lingkungan untuk bersosialisasi yang nyaman. Para tamu dapat saling berinteraksi dan mendapatkan pengalaman baru yang dinamik di YELLO Hotel Jambi.

Dibangun dengan lokasi strategis di Jalan Utama Sudirman kelurahan Thehok, bersebelahan dengan Transmart Jambi dan hanya 10 menit dari Bandara Sultan Thaha, YELLO Hotel Jambi memiliki 174 kamar tidur dan 6 ruangan meeting dengan 11 lantai.

Pasar utama YELLO Hotel Jambi mengarah pada kalangan millenial dan netizen yang berharap untuk “stay connected” saat berlibur. Dibangunnya hotel ini tak lepas dari tren travelling yang setiap tahunnya terus bertambah dan telah menjadi sebuah gaya hidup yang baru.

"YELLO Hotel Jambi bernuansa street art dan tentunya juga tech-savvy, cocok untuk kalangan travellers terkini. Dengan harapan, ekspansi YELLO ke pasaran Kota Jambi akan mendorong tingkat perekonomian dan daya tarik Kota Jambi terhadap para wisatawan," kata Direktur Utama PT Rajato Mitra Sentosa Hotelindo, Ronny Attan.

Dijelaskanya, hadirnya YELLO Hotel akan memberikan warna baru bagi masyarakat Jambi. Karena selain menginap di hotel, konsumen juga bisa langsung berbelanja di Transmart yang mulai beroperasi di bulan Ramadhan tahun ini.

"Ini yang menarik menurut kami, karena dieprsatukan dengan hotel. Jadi konsumen sangat mudah menginap dan berbelanja," ujarnya.

Ronny mengatakan YELLO Hotel konsepnya lebih bagus dan pilihan tepat untuk dibangun di Kota Jambi.

Ronny juga memastikan jika YELLO Hotel beroperasi, maka dalam penyerapan tenaga kerja 100 persen adalah tenaga kerja lokal.
Perwakilan TAUZIA International Management, Armand Steinmeyer beserta Ronny Attan selaku Direktur Utama PT Rajato Mitra Sentosa Hotelindo memberikan keterangan pers terkait pembangunan YELLO Hotel Jambi, di Restoran Casa De Alicia, Kamis (11/4).
Sementara itu, Perwakilan TAUZIA Hotel Management, Armand Steinmeyer mengatakan PT Rajato Mitra Sentosa Hotelindo merupakan partner yang mengerti konsep sebuah hotel dan cocok dengan YELLO Hotel.

YELLO Hotel kata Armand berbeda dari hotel-hotel yang ada di Jambi. TAUZIA Hotel akan membuat YELLO Hotel berstandar internasional.

Ia juga memastikan, resto dan sajian makanan di YELLO Hotel nantinya bersertifikasi halal dan memberdayakan tenaga kerja lokal.

Seperti diketahui, TAUZIA Hotels adalah anggota dari The Ascott Limited (Ascott), sebuah perusahaan Singapura yang telah berkembang menjadi salah satu perusahaan pemilik-pengelola penginapan terdepan yang bertaraf internasional.

Mencakup lebih dari 170 kota dan terbentang di 30 negara, merek-merek yang dimiliki Ascott adalah Ascott, Citadines, Somerset, Quest, The Crest Collection dan lyf.

Ascott adalah anak perusahaan yang dimiliki secara penuh oleh CapitaLand Limited (CapitaLand), salah satu perusahaan real estate terbesar di Asia yang berkantor pusat dan terdaftar di Singapura.

Memiliki rekam jejak di industri selama lebih dari 30 tahun dan merupakan merek serviced residence yang telah meraih banyak penghargaan internasional sekaligus diakui di seluruh dunia.***
 

Pewarta: Dodi Saputra

Editor : Ariyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2019