Dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya untuk hari kelima berturut-turut pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), di tengah kepercayaan pada prospek ekonomi AS dan kemungkinan bahwa laporan pekerjaan Jumat akan lebih kuat dari yang diperkirakan.

Indeks dolar AS naik 0,5 persen pada perdagangan sore di New York menjadi 91,509, dan telah menguat 1,7 persen sejauh tahun ini di level tertinggi dalam dua bulan.

Pergerakan tersebut terjadi saat penurunan 0,6 persen dalam euro, yang jatuh menjadi 1,1966 dolar, di bawah apa yang tampak sebagai level resistensi 1,20 dolar awal pekan ini. Pelemahan itu merupakan pertama di bawah 1,20 dolar sejak 1 Desember.

Dolar juga menguat 0,4 persen terhadap yen, naik ke 105,53, level tertinggi sejak 11 November.

Setelah indeks dolar kehilangan 7,0 persen tahun lalu, kenaikannya sejak Desember terjadi karena short covering dan pandangan bahwa pemulihan ekonomi AS dari pandemi COVID-19 akan lebih kuat daripada di negara lain.

"Ada perubahan mendasar di sini dalam jangka pendek di mana kami melihat prospek ekonomi AS benar-benar mengalahkan apa yang kami lihat di zona euro," kata Ed Moya, analis pasar senior di OANDA.

Pandangan itu diperkuat pada Kamis (4/2) ketika pemerintah AS mengatakan jumlah warga Amerika yang mengajukan aplikasi baru untuk tunjangan pengangguran menurun minggu lalu.

Klaim awal untuk tunjangan pengangguran AS mencapai 779.000 yang disesuaikan secara musiman minggu lalu, lebih baik dari perkiraan ekonom dan lebih baik dari 812.000 pada minggu sebelumnya. Pemerintah akan merilis pada Jumat angka penggajian (payroll) pekerjaan untuk Januari, dan ekonom memperkirakan kenaikan 50.000 pekerjaan setelah penurunan 140.000 pada Desember.

Penguatan dolar terjadi karena imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka panjang naik pada Kamis (4/2), saat investor memposisikan diri untuk paket bantuan pandemi besar dari Washington dan pasar tenaga kerja AS yang stabil.

Imbal hasil obligasi AS jangka panjang naik karena para pedagang memposisikan diri untuk paket stimulus besar dari Washington. Imbal hasil obligasi 10-tahun naik satu basis poin dalam perdagangan sore di 1,14 persen dan sempat mencapai 1,16 persen, tertinggi sejak 12 Januari.

Partai Demokrat di Senat AS bersiap untuk sesi maraton “vote-a-rama” yang bertujuan mendominasi oposisi Partai Republik terhadap proposal bantuan COVID-19 senilai 1,9 triliun dolar dari Presiden Joe Biden.

Di saat yang sama, pound Inggris merosot hingga setengah persen pada hari menjelang pernyataan yang dijadwalkan oleh bank sentral Inggris (BoE) tentang kemungkinan suku bunga negatif dan kemudian rebound menjadi diperdagangkan naik 0,3 persen setelah pernyataan bank sentral.

BoE mengatakan akan meminta bank-bank untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan suku bunga negatif, tetapi mengindikasikan bahwa pasar keuangan seharusnya tidak mengharapkan biaya pinjaman di bawah nol untuk setidaknya enam bulan, jika ada.

Bank sentral menambahkan bahwa pihaknya memperkirakab ekonomi Inggris mungkin menyusut sebesar 4,0 persen dalam tiga bulan pertama tahun ini, dan akan pulih dengan cepat menuju tingkat pra-COVID selama setahun.

“Yang harus dipantau adalah seberapa cepat Eropa mengeluarkan vaksin. Jika kami melihat kelambatan yang terus berlanjut di sana, Anda akan melihat kesenjangan melebar antara euro dan dolar,” kata Justin Onuekwusi, manajer portofolio di Legal & General.

Mata uang kripto ethereum, yang telah melonjak 10 persen pada Rabu (3/2), tergelincir 1,0 persen setelah mencapai level tertinggi sepanjang masa di 1.698,56 dolar menjelang peluncuran ethereum futures di Chicago Mercantile Exchange minggu depan.

Bitcoin juga turun 1,0 persen pada Kamis (4/2) menjadi 37.320 dolar.

Mata uang kripto itu mendapatkan daya tarik lebih banyak investor arus utama dan total nilai pasar mereka mencapai satu triliun dolar untuk pertama kalinya pada Januari.

Pewarta: Apep Suhendar

Editor : Ariyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2021