Di siang hari yang teduh awal pekan kedua Februari 2023, puluhan ibu rumah tangga warga Dusun Klangon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, berkumpul di Posyandu Mawar Merah untuk mengikuti program rutin pemberian vitamin serta pemantauan tumbuh kembang anak.

Suara tangisan dan tawa riang anak saling bersahutan, terdengar dari arah rumah joglo yang menjadi pusat kegiatan posyandu. Sebagian peserta mendeprok mengelilingi seorang kader yang aktif sejak pagi menyampaikan materi tentang bahaya stunting, berikut upaya pencegahannya.

Usai sosialisasi, peserta diarahkan menuju bagian sisi pendopo untuk proses skrining tumbuh kembang anak menggunakan satu set alat antropometri berstandar nasional teranyar Kementerian Kesehatan RI yang didapat kurang dari sebulan lalu.

Alat itu terdiri atas timbangan bayi digital (baby scale), papan ukur panjang badan bayi (infantometer/length board), timbangan balita digital (standing wight), alat ukur tinggi badan (stadiometer), dan pita ukur lingkar lengan atas dan lingkar kepala.

Jika berat badan anak tidak mengalami peningkatan secara konsisten sesuai perkembangan usia pada umumnya, maka diperlukan intervensi spesifik pencegah kekurangan gizi. Acuan tumbuh kembang anak berdasarkan laporan antropometri dapat di lihat pada tautan berikut ini.

Standar alat antropometri anak di Indonesia mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/1919/2022 yang disusun sejak Maret 2022. Sebulan berselang, tim merumuskan lima acuan spesifikasi alat antropometri sebagai standar acuan bagi produsen.

Standar yang dimaksud, di antaranya, alat baby scale injak harus digital, tapi untuk perangkat Bluetooth yang menghubungkan alat dengan seluler pintar, laptop, hingga komputer masih bersifat opsional.

Alat ukur infantometer dan stadiometer dapat berupa digital atau analog. Alat stadiometer berupa digital menyesuaikan dengan standar aturan tersebut. Alat antropometri dapat dibeli secara paket atau secara terpisah dan wajib memiliki Nomor Izin Edar dan Tingkat Komponan Dalam Negeri (TKDN).

Pada Mei 2022, Kemenkes menantang sejumlah produsen alat kesehatan ternama di Tanah Air untuk memenuhi 313.737 unit antropometri berstandar di 303.416 posyandu pada tahun ini.

Standar tersebut sepenuhnya mengganti pemanfaatan antropometri konvensional yang dinilai kurang presisi untuk pelaporan angka di tingkat nasional. Misalnya, pada alat timbang berbandul pasir, batu kerikil, hingga pegas yang bisa memuai seiring usia pakai.

Selain itu, alat infantometer lama masih banyak yang menggunakan material kayu sebagai acuan angka tinggi anak usia 0--24 bulan. Dalam pemakaian jangka lama, kayu berpotensi melar.

Juga stadiometer lama, serupa penggaris gulung yang harus dipaku hingga bagian atas dinding, lalu ditarik sampai menyentuh bagian kepala anak. Alat ukur tinggi badan anak mulai usia 0 bulan itu harus menempel pas pada titik koordinat, jika meleset, dipastikan angka yang dilaporkan tidak akurat.
Suasana antrean layanan Posyandu Mawar Merah, Sleman, Yogyakarta, Yogyakarta, Sabtu (11/2/2023). (ANTARA/Andi Firdaus)

Adaptasi

Rizal Ihsan Hidayat (2,5), menjerit histeris di pelukan sang ibu saat mendapat giliran timbang badan menggunakan alat keluaran PT Astra Komponen Indonesia.

Putra kedua dari ibu berhijab berperawakan mungil, Ngatiyem (42), itu sesekali berontak saat sejumlah kader saling bergantian berusaha mengangkat tubuhnya ke alat timbang. Rizal hanya mau digendong sang ibu.
Seorang balita digendong orang tuanya saat menjalani timbangan badan menggunakan alat ukur antropometri berstandar di Posyandu Mawar Merah, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (11/2/2023). (ANTARA/Andi Firdaus).

Tak disangka, kondisi itu rupanya sudah diperhitungkan dalam penentuan standar antropometri yang dipakai, Ngatiyem bisa ditimbang badan sembari menggendong Rizal. Sistem pada alat timbang mengoreksi selisih tubuh ibu, sehingga hanya berat anak yang dilaporkan pada layar.

"Tapi beberapa kali fitur ini suka error, harus sering diulang-ulang pencetnya. Kadang Bluetooth-nya lemot dan harus entry data manual," kata salah satu kader.

Selain itu, satu set alat antropometri terbaru yang dikemas dalam tas, masih dirasakan berat untuk digendong menuju sejumlah posyandu yang belum kebagian jatah. Topografi di sejumlah perdesaan di Yogyakarta yang tidak seluruhnya datar, masih menjadi beban para kader.

Distribusi pinjam alat antropometri tersebut umumnya berlangsung pada kurun Februari hingga Agustus yang bertepatan dengan jadwal pemberian vitamin pada anak di posyandu.

Puskesmas Tempel 1, Sleman, adalah salah satu fasyankes di Yogyakarta yang belum menerima bantuan antropometri set terbaru dari Kemenkes. Pemantauan tumbuh kembang anak masih menggunakan alat konvensional dengan merk beragam, tapi diklaim masih akurat dan memenuhi kaidah Permenkes yang berlaku Januari 2022.

Puskesmas itu masih membutuhkan antropometri kit terbaru untuk memenuhi layanan di 64 posyandu dan delapan layanan polianak. Alasannya, alat baby scale pemberian Kemenkes pada 2015 belum bisa menampilkan angka dalam satuan gram. Bahkan, sebagian besar alat rusak, karena tak lagi bisa diganti baterai.

Sementara di Kabupaten Bantul, alat ukur standar terbaru telah dipenuhi sebanyak 270 paket dari total 1.148 jaringan posyandu. Setiap paket berisi alat ukur berat badan bayi, alat infantometer, timbangan dewasa, alat ukur stadiometer, hingga tas antropometri kit bermerk Innaoq, senilai total Rp10,39 juta.


Minim timbangan

Pada agenda rakornas penurunan stunting di Auditorium BKKBN, Jakarta Timur, Rabu (25/1), Presiden RI Joko Widodo menyindir alokasi dana Kementerian Kesehatan yang belum mampu memenuhi kebutuhan alat timbangan di posyandu, meski harganya relatif murah.

"Berkaitan dengan USG atau alat timbang, pengukur panjang atau tinggi badan, itu harganya berapa sih?, USG itu harga berapa sih? Anggaran Menkes itu berapa sih? Kan gede banget. Apalagi Pak Menkes ini dulu banker, banker itu mestinya itung-itungan uang lebih pandai Pak Menteri daripada saya, yang paling penting tahun ini bisa diselesaikan semuanya," ujarnya.

Kebutuhan antropometri disorot Presiden sebab menjadi pangkal laporan dari ikhtiar pemerintah dalam mendeteksi dan mengatasi laju stunting pada anak setelah lahir di Indonesia.

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, prevalensi balita stunting di Indonesia mencapai 21,6 persen pada 2022. Angka ini turun 2,8 poin dari tahun sebelumnya. Untuk dapat mencapai target 14 persen di tahun 2024, masih diperlukan penurunan secara rata rata 3,8 persen per tahun.

Agar target terlaksana dengan baik, setiap program yang dilakukan dengan pengukuran. Antropometri terstandar merupakan salah satu alat ukur untuk memantau pertumbuhan balita, pemberian ASI eksklusif, pemberian MPASI kaya protein hewani bagi baduta, tatalaksana balita dengan masalah gizi, hingga peningkatan cakupan perluasan imunisasi.
Seorang balita menjalani pengukuran tinggi badan menggunakan alat konvensional di Puskesmas Tempel 1, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (11/2/2023). (ANTARA/Andi Firdaus)

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menaruh perhatian pada gizi bayi pada usia 6--24 bulan, sebab rentan mengalami stunting. Pada usia itu, ASI sudah tidak cukup lagi, maka harus ditambah dengan protein hewani sesuai saran para ahli, yakni telur, susu, ikan, ayam atau daging.

Sedangkan intervensi spesifik pada bayi sebelum lahir, meliputi skrining anemia, konsumsi tablet tambah darah remaja putri, pemeriksaan kehamilan, konsumsi tablet tambah darah ibu hamil, dan pemberian makanan tambahan ibu hamil kurang energi kronis (KEK).

Tumbuh kembang anak penting untuk disadari orang tua dalam memantau risiko terjadinya stunting dan berbagai penyakit lainnya yang dipicu kekurangan gizi. Meskipun jumlah alat antropometri berstandar masih sangat terbatas, tapi sebagian menjamah hingga kawasan pelosok demi mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.

 

Pewarta: Andi Firdaus

Editor : Ariyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2023