Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Senin, bergerak menguat 38 poin atau 0,23 persen menjadi Rp16.782 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.820 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menganggap penguatan ini dipengaruhi respons positif pasar terhadap komitmen Bank Indonesia (BI) dana menjaga stabilitas rupiah.

“Pasar mendukung komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah yang memberikan sentimen positif, dengan melakukan intervensi dalam jumlah besar melalui pasar offshore NDF, DNDF (domestic non-delivery forward), serta pasar spot,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Ke depan, lanjutnya, BI meyakini kurs rupiah akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat berkat dukungan imbal hasil yang menarik, inflasi rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi.

Penguatan rupiah juga didukung cadangan devisa (cadev) yang lebih dari cukup untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar.

Melihat sentimen global, ketegangan antara AS dengan NATO meningkat pasca Presiden AS Donald Trump hendak mengakuisisi Greenland.

“Retorika Trump tentang kepentingan strategis AS di wilayah Arktik telah memperketat hubungan transatlantik, memicu kekhawatiran tentang dampak diplomatik dan ekonomi yang lebih luas,” ungkap Ibrahim.

Di sisi lain, Trump juga mengancam pengenaan tarif sebesar 100 persen terhadap barang-barang Kanada apabila negara tersebut melanjutkan kesepakatan dagang dengan China.

“Trump menulis di platform media sosialnya bahwa Kanada dapat digunakan sebagai ‘pelabuhan transit’ untuk barang-barang China yang masuk ke Amerika Serikat dan memperingatkan bahwa Beijing akan ‘memakan Kanada hidup-hidup’ jika kesepakatan tersebut berjalan,” ujar dia.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp16.779 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.838 per dolar AS.

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas

Editor : Ariyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2026