Minggu, 22 Oktober 2017

Restorasi gambut Sumsel gunakan peta terbaru

id gambut, sumsel
Palembang, Antarajambi.com - Peta gambut yang baru dirampungkan Badan Restorasi Gambut pada pertengahan 2017 menjadi acuan pelestarian dan perestorasian gambut di Sumatera Selatan hingga tahun 2020.

Staf Khusus Gubernur Sumatera Selatan Najib Asmani di Palembang, Jumat mengatakan peta gambut terbaru ini dapat dijadikan acuan karena memiliki skala lebih baik dibandingkan sebelumnya yakni dari skala 1:250.000 menjadi 1:50.000.

"Dengan adanya peta yang baru ini maka diharapkan upaya pelestarian dan perestorasian menjadi lebih efektif dan tepat sasaran, karena sudah ada panduan bekerja di lapangan," kata Najib.

Peta gambut ini menggambarkan pemetaan detail dan analisa terkait hidrotopografi serta tutupan lahan gambut yang akan jadi dasar pekerjaan fisik restorasi gambut yang sangat dibutuhkan.

BRG telah menyerahkan peta Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) yang ada di empat kabupaten prioritas restorasi gambut Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Kepulauan Meranti, dan Pulang Pisau. 

Kemudian ke lokasi tempat bantuan Norwegia, dan 1 KHG lagi di Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti yang dibuat dengan konsorium UGM-SixCAP sedang dalam penyelesaian.

Pendataan dilakukan melalui foto udara agar tingkat keakuratan bisa lebih baik dibandingkan sebelumnya. Oleh karena itu, beberapa pesawat pemantau diterbangkan meliputi beberapa provinsi yang menjadi skala prioritas, salah satunya di Sumatera Selatan.

BRG telah bekerja sama dengan beberapa universitas lokal dalam mengerjakan pemetaan skala 1:50.000. Selanjutnya, peta tersebut dipertajam dengan teknologi Light Detection and Ranging (LiDAR). 

Pemetaan ini mengintegrasikan sistem penentuan posisi Global Positioning System/Inertia Navigation System (GPS/INS), dan pengukuran jarak dengan laser ke obyek di permukaan bumi yang dilengkapi kamera digital.

Hasilnya, menunjukkan peta ketinggian permukaan bumi untuk mengidentifikasi kubah gambut, peta hidrotopografi (modeling arah aliran air di lahan gambut untuk membantu identifikasi lokasi sekat kanal) dan peta penutup lahan dari foto udara untuk melihat kondisi terkini gambut, yang bisa digunakan untuk panduan operasional dan implementasi fisik restorasi di lapangan.

Peta ini sejatinya menjadi kebutuhan mendesak karena akan dijadikan acuan dalam bertindak di lapangan, mulai dari pemulihan lingkungan hingga penegakan hukum terkait pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

"Dengan peta skala besar ini maka implementasi intervensi fisik, konstruksi pembangunan sekat kanal atau penimbunan kanal bisa dilakukan tanpa ragu-ragu," kata dia.

Editor: Syarif

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga