Kota Jambi (ANTARA) - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Perwakilan Jambi menyebutkan, kinerja ekonomi regional Provinsi Jambi tumbuh sebesar 4,99 persen (yoy) dan berperan sebagai shock absorber atau peredam kejut untuk menjaga daya beli masyarakat.
Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Jambi Tunas Agung Jiwa Brata di Jambi, Kamis mengatakan, realisasi APBN di daerah terus menunjukkan tren positif pada sisi realisasi pendapatan dan belanja, baik belanja kementerian/lembaga negara maupun transfer ke daerah, serta penyaluran kredit program KUR dan UMi.
Realisasi pendapatan negara adalah sebesar Rp4.273,71 miliar, kata dia, namun pendapatan negara dari regional Jambi itu mengalami kontraksi sebesar 26,40 persen (ctc).
"Penerimaan pajak netto Provinsi Jambi sampai dengan September 2025 mencapai Rp3,17 triliun, terkontraksi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal itu disebabkan oleh SPMKP (restitusi pajak) sebesar Rp1,30 triliun atau tumbuh 178,65 persen," katanya.
Penerimaan pajak bruto Provinsi Jambi tumbuh positif 9,66 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Hal itu didorong oleh sektor perdagangan besar dan eceran yang menjadi sektor penyumbang penerimaan terbesar di Provinsi Jambi, dengan total penerimaan sebesar Rp1,16 triliun.
"Sektor aktivitas keuangan dan asuransi mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 8,34 persen dibandingkan dengan tahun lalu periode yang sama. Realisasi penerimaan September 2025 sebesar Rp510,87 miliar, lebih dari perkiraan sebesar 1,76 persen dari total perkiraan Rp502,05 miliar," katanya.
Ia mengatakan, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai dari sisi perpajakan internasional pada Regional Jambi sampai dengan 30 September 2025 telah mencapai 220,29 persen atau sebesar Rp276,32 miliar dari target.
"Kontribusi penerimaan tertinggi terdapat pada Bea Keluar (BK) dari ekspor komoditi sawit dan produk turunannya, terutama komoditi RBD Palm Olein dan Palm Kernel Shell, yang tarifnya naik dari bulan sebelumnya," kata Tunas.
Kemudian realisasi Bea Masuk (BM) sebesar Rp13,15 miliar atau 137,27 persen dari target, realisasi Bea Keluar (BK) sebesar 262,21 miliar atau 226,32 persen dari target dan realisasi cukai sebesar Rp0,96 miliar.
