Kota Jambi (ANTARA) - Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi menganalisa bentang alam (lanskap) Kerinci rawan bencana hidrometeorologi akibat perambahan yang semakin masif di bibir kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

"Kita lihat di gambar tiga dimensi yang kita olah, pinggiran taman nasional sudah banyak berubah menjadi lahan masyarakat," kata Manajer Program Komunikasi dan Informasi KKI Warsi, Rudi Syaf di Jambi, Selasa.

Menurut Rudi, praktik menyimpang yang dilakukan oleh oknum masyarakat membuat kawasan taman nasional yang seharusnya terjaga agar tetap lestari, saat ini mengalami penurunan tutupan hutan.

Sebaran pembukaan lahan secara masif terlihat jelas dalam tangkapan gambar yang didata dan diolah oleh KKI Warsi. Mulai dari punggungan Gunung Kerinci yang terhubung di bukit barisan bagian selatan, wilayah Solok Selatan (Sumbar) hingga ke sisi bagian yang menghubungkan bagian Bengkulu.

Ia menilai kegiatan menyimpang itu sangat berbahaya bagi pemukiman yang berada di lembahan kawasan Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh.

Berdasarkan data, ratusan anak sungai dari kawasan perbukitan di kawasan TNKS, umumnya mengalir di lembahan Kerinci yang menjadi pusat populasi penduduk hingga ke Danau Kerinci.

"Jadi wajar, ketika hujan terjadi sebagian wilayah ada yang terendam banjir. Itu akibat pembukaan lahan yang seharusnya kawasan hutan banyak diganti menjadi lahan perkebunan," katanya.

Lebih lanjut, Rudi menyampaikan ada temuan kasus perambahan kawasan hutan menjadi pemukiman penduduk di batas wilayah Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Bungo di kawasan TNKS melibatkan masyarakat pendatang dari berbagai wilayah.

Jika hal itu dibiarkan tanpa penanganan serius, bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor menjadi ancaman serius bagi masyarakat sekitar.

Di tambah lagi aksi pembukaan lahan untuk kegiatan pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang di duga semakin masif di dalam TNKS.

"Di sini terlihat jelas, bukit yang harusnya menjadi benteng terakhir penahan, mengalami alih fungsi," kata Rudi Syaf.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: KKI Warsi analisa bentang alam Kerinci rawan bencana hidrometeorologi

Pewarta: Agus Suprayitno
Editor : Siri Antoni

COPYRIGHT © ANTARA 2026