Bangko, Merangin (ANTARA) - Wakil Bupati Merangin A. Khafidh, mendorong para santri dan santriwati yang telah lulus dari pondok pesantren untuk kembali ke dusun masing-masing dan mengambil peran dalam memperkuat pendidikan agama di tengah masyarakat.

Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri perpisahan dan wisuda angkatan ke-20 Santri dan Santriwati Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Wal Hadits Al-Munawwaroh, Kelurahan Dusun Bangko, Kecamatan Bangko, Selasa.

Dalam kegiatan itu, sebanyak 32 santri diwisuda, terdiri dari 8 santri putra dan 24 santri putri. Menurut Wabup, keberadaan santri di lingkungan desa sangat penting untuk membantu membentengi generasi muda dari dampak negatif perkembangan teknologi dan penggunaan gawai yang semakin masif di kalangan anak-anak.

Ia meminta para alumni pesantren aktif menghidupkan kembali tradisi mengaji bagi anak-anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama di lingkungan masing-masing.

“Untuk santri dan santriwati yang balik ke dusun, tolong diajak anak-anak yang masih sekolah di SD atau SMP yang tidak masuk pesantren. Kita ingin para santri berkolaborasi, mengajar ngaji. Minimal memanfaatkan waktu yang singkat antara Maghrib sampai Isya,” ujar A. Khafidh.

Menurutnya, penguatan pendidikan agama di lingkungan keluarga dan masyarakat menjadi langkah penting dalam menjaga moral generasi muda di tengah derasnya arus perkembangan teknologi digital.

Selain itu, Wabup juga menyinggung pentingnya pengawasan bersama di lingkungan pesantren guna mencegah terjadinya berbagai persoalan yang dapat mencoreng dunia pendidikan keagamaan. Pengawasan tersebut, kata dia, perlu melibatkan aparat hukum dan dinas terkait.

Tak hanya mendorong syiar agama, A. Khafidh juga memotivasi para santri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan memanfaatkan jalur khusus bagi penghafal Al-Qur’an.

Ia menyebut saat ini banyak perguruan tinggi negeri yang membuka peluang besar bagi hafiz dan hafizah untuk masuk tanpa melalui jalur tes umum, khususnya bagi mereka yang hafal 30 juz.

“Kesempatan sekarang ini banyak universitas yang menerima hafiz dan hafizah Al-Qur’an. Terutama yang hafal 30 juz, itu bisa masuk tanpa melalui tes,” jelasnya.

Wabup menambahkan, berdasarkan pengalamannya saat masih bertugas di tingkat provinsi bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Merangin, Misrinaldi, sejumlah universitas ternama telah menyediakan jalur khusus bagi para penghafal Al-Qur’an.

Beberapa di antaranya seperti Universitas Riau di Pekanbaru, sejumlah universitas di Medan, hingga beberapa perguruan tinggi negeri lainnya di Indonesia.

“Para hafiz dan hafizah dipandang sebagai orang-orang yang cerdik dan pandai, karena menghafal Al-Qur’an itu tingkat kesulitannya tinggi. Maka dari itu, manfaatkan kesempatan emas ini,”tutupnya.

 



Pewarta: Riski Apriyani
Editor : Siri Antoni

COPYRIGHT © ANTARA 2026