Jakarta (ANTARA) -  Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi kunci membangun ketahanan ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Dalam pidatonya pada The 2026 Asia Grassroots Forum by Amartha di Jakarta, Kamis, SBY mengatakan dunia saat ini tengah memasuki era baru yang ditandai dengan berbagai tantangan global, mulai dari meningkatnya rivalitas geopolitik, perang dan konflik di berbagai wilayah, dan perubahan rantai pasok global.

Meski demikian, SBY menilai Indonesia dan negara-negara anggota ASEAN memiliki keunggulan dalam menghadapi kondisi tersebut, yaitu keberadaan jutaan pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian kawasan.

"Ketika guncangan global terjadi, sistem bisa melemah, investasi menjadi lebih berhati-hati, dan pasar internasional berfluktuasi,” kata SBY.

“Namun, komunitas akar rumput tetap beradaptasi, bertahan, dan bangkit kembali. Untuk itu, pemberdayaan UMKM bukan sekadar agenda sosial, melainkan agenda ekonomi yang strategis," katanya menambahkan.

Ia mengatakan dari Indonesia hingga Vietnam, serta dari Filipina hingga Thailand, jutaan UMKM menopang aktivitas ekonomi sehari-hari melalui berbagai sektor usaha, mulai dari perdagangan, manufaktur skala kecil, pertanian, perikanan, logistik, hingga usaha berbasis digital.

Menurut dia, negara yang mampu memperkuat kewirausahaan akan memiliki ketahanan ekonomi yang lebih kuat, partisipasi ekonomi yang lebih luas, serta stabilitas sosial yang lebih baik.

SBY mengaitkan pandangan tersebut dengan pengalaman Indonesia menghadapi sejumlah krisis besar, mulai dari dampak krisis Asia 1997-1998, tsunami Aceh pada 2004, hingga krisis keuangan global 2008.

Menurut dia, salah satu pelajaran penting dari berbagai krisis tersebut adalah bahwa negara akan lebih kuat ketika masyarakat tetap aktif secara ekonomi, terhubung secara sosial, dan memiliki harapan terhadap masa depan.

Selain memperkuat UMKM, SBY menilai perkembangan teknologi membuka peluang besar untuk memperluas inklusi ekonomi di negara-negara berkembang.

Melalui layanan keuangan digital, perdagangan elektronik, dan berbagai platform digital, pelaku usaha kecil kini memiliki akses yang lebih luas terhadap pasar, pembiayaan, dan berbagai peluang usaha.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi juga dapat memperlebar kesenjangan apabila aksesnya hanya dinikmati kelompok tertentu.

Menurut dia, transformasi digital harus berjalan seiring dengan upaya memperluas inklusi agar manfaat teknologi dapat dirasakan secara merata.



Pewarta: Shofi Ayudiana
Uploader : Ariyadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026