KKN MBKM menjadi salah satu bentuk implementasi pembelajaran di luar kampus yang dirancang untuk memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa melalui pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mendorong pemberdayaan desa sesuai kebutuhan dan potensi yang dimiliki masing-masing wilayah.
Selama masa pengabdian, mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja yang telah dirancang sebelumnya, tetapi juga membangun komunikasi dan kolaborasi bersama pemerintah desa serta masyarakat setempat. Setiap kegiatan diawali dengan observasi dan identifikasi kebutuhan masyarakat sebagai dasar penyusunan program agar benar-benar tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata.
Di antara program pemberdayaan yang dijalankan, mahasiswa memberikan pendampingan kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikat halal, serta memanfaatkan teknologi digital seperti Google Maps sebagai media promosi usaha. Selain itu, mahasiswa turut membantu administrasi desa, melakukan pendataan warga, dan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Koordinator Pusat Pelayanan KKN Universitas Jambi, Ridhwan, S.Ag., M.E.Sy., menyampaikan bahwa KKN MBKM merupakan ruang belajar bagi mahasiswa untuk memahami kehidupan masyarakat secara langsung.
“KKN MBKM bukan sekadar program pengabdian kepada masyarakat. Program ini menjadi ruang belajar yang mempertemukan mahasiswa dengan berbagai persoalan di lapangan sehingga mereka dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus belajar membangun komunikasi, berkolaborasi, dan mencari solusi bersama masyarakat,” ujarnya.
Ridhwan menambahkan, melalui program ini mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kepedulian sosial dan kemampuan menghadapi dinamika kehidupan bermasyarakat.
Di lapangan, mahasiswa menemukan masih banyak pelaku UMKM yang belum memiliki Nomor Induk Berusaha maupun sertifikat halal. Kondisi ini menjadi salah satu fokus pendampingan selama pelaksanaan KKN, yang menyasar hampir 100 pelaku UMKM yang tersebar di enam desa. Melalui sosialisasi dan pendampingan intensif, mahasiswa berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya legalitas usaha sebagai upaya meningkatkan kualitas produk sekaligus daya saing usaha di pasar yang lebih luas.
Dari pendampingan tersebut, hampir 60 persen pelaku UMKM sudah berhasil terdaftar di Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), dan sekitar 10 persen di antaranya sudah menerima sertifikat halal. Sisanya masih dalam proses menunggu, mengingat penerbitan sertifikat memerlukan sidang yang digelar secara periodik sehingga membutuhkan waktu. Mengingat program baru berjalan sekitar dua bulan, capaian ini dinilai wajar karena proses pengurusan sertifikat halal memang membutuhkan tahapan dan waktu tersendiri.
Ketua Posko 1 KKN MBKM, Ibrani, mengaku bahwa pengalaman selama mengikuti KKN memberinya banyak pelajaran yang tidak diperoleh di ruang kuliah. Berinteraksi langsung dengan masyarakat, menurutnya, menjadi proses pembelajaran yang membentuk kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, serta menyelesaikan berbagai persoalan di lapangan.
“Saya mendapatkan pengalaman yang sangat banyak selama KKN di desa. Saya belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, bekerja sama dengan masyarakat dan pemerintah desa, serta melatih kemampuan komunikasi, kerja sama tim, dan kepemimpinan. Pengalaman ini membuat saya memahami bahwa setiap persoalan di masyarakat membutuhkan pendekatan yang berbeda,” ungkap Ibrani.
Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar selama pelaksanaan KKN adalah menyesuaikan program kerja dengan kebutuhan masyarakat serta mendorong partisipasi warga dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan.
“Tidak semua program bisa langsung diterima begitu saja. Kami harus menyesuaikan waktu dengan aktivitas masyarakat, membangun komunikasi, dan meyakinkan mereka bahwa program yang kami jalankan bertujuan memberikan manfaat bersama. Dari situ kami belajar arti penting kesabaran dan kerja sama,” katanya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Ibrani mengaku banyak momen yang meninggalkan kesan mendalam selama menjalankan pengabdian, salah satunya ketika masyarakat dan pemerintah desa memberikan dukungan penuh terhadap setiap program yang dilaksanakan mahasiswa.
“Momen yang paling berkesan bagi kami adalah ketika masyarakat dan pemerintah desa memberikan respons yang sangat positif. Melihat masyarakat dan para pemuda ikut membantu menjalankan program kerja membuat kami merasa kehadiran kami benar-benar diterima dan memberikan manfaat,” tuturnya.
Pelaksanaan KKN MBKM tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan, tetapi juga menjadi proses pembentukan karakter bagi mahasiswa. Pengalaman hidup bersama masyarakat mengajarkan mereka untuk lebih peka terhadap persoalan sosial, mampu bekerja dalam tim, serta membangun komunikasi dengan berbagai pihak. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa ketika memasuki dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat kelak.
Melalui Program KKN Tematik MBKM, Universitas Jambi terus berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kepedulian sosial mahasiswa. Semangat belajar, mengabdi, dan berdampak menjadi nilai yang terus dihidupkan agar setiap mahasiswa mampu membawa manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi representasi terbaik Universitas Jambi di manapun mereka berkarya.
Pewarta: Nanang MairiadiUploader : Ariyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.