Jambi (ANTARA) - Bagi seorang Bhayangkara sejati, tugas bukanlah opsi untuk memilih, melainkan ruang untuk mengabdi. Dengan seragam cokelatnya yang rapi membungkus perawakan langsing, pria itu melempar senyum hangat kepada setiap warga yang berpapasan dengannya di salah satu sudut Kabupaten Muara Bungo, Provinsi Jambi.
Ia adalah Aipda Arjunif, S.I.P, seorang Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas). Belakangan ini, ia kerap disebut-sebut oleh warga sebagai penjelmaan sosok Jenderal Hoegeng versi modern di Jambi—jujur, tulus, dan menolak berjarak dengan masyarakat.
Pria kelahiran Kerinci pada 1979 ini mengemban amanah sebagai Bhabinkamtibmas pada 2016, dengan wilayah binaan di Desa Sepunggur dan Desa Tuo Sepunggur di Kecamatan Bathin II Babeko, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi.
Sebelum mengemban amanah di tingkat tapak, Arjunif adalah seorang personel Ditpolairud di Batam sejak lulus Tamtama di Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) pada 2000 hingga 2009. Setelah itu, ia pindah tugas ke Polda Jambi selama enam bulan, lalu digeser ke Polsek Babeko, Kabupaten Muara Bungo, selama kurang lebih dua tahun.
Ia sempat ditarik kembali ke Polres Bungo selama dua tahun, hingga akhirnya pada tahun 2016, sebuah surat keputusan penugasannya menjadi seorang Bhabinkamtibmas di Polsek Babeko, Kabupaten Muara Bungo. Dari mengarungi sungai dan laut, ia mendadak diterjunkan langsung ke ruang tamu dan teras rumah warga. Mengurai dinamika konflik di masyarakat.
"Saya biasanya dibarisan pasukan tempur, tiba-tiba dihadapkan dengan masyarakat. Tidak ada bekal sama sekali," ungkap Arjunif, mengenang masa-masa transisinya saat berbicara dalam diskusi publik yang digelar Bidhumas Polda Jambi, baru-baru ini.
Kebingungan itu nyata. Arjunif sempat gamang menghadapi perubahan kultur kerja dari yang semula represif-taktis menjadi persuasif-humanis. Berbekal pernah berdinas di tingkat Polsek di wilayah itu, maka menjadi energi baginya untuk menjalankan amanah yang tak berjarak dengan masyarakat itu.
Menjinakkan bom waktu konflik lahan
Ujian pertama yang nyata bagi Arjunif langsung datang begitu ia menginjakkan kaki di wilayah tugas barunya pada 2016. Dusun Sepunggur yang ia bina tidak sedang dalam kondisi tenang. Wilayah itu tengah syarat dinamika "tensi tinggi" akibat konflik agraria segitiga antara masyarakat, perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Suwindo, dan seorang oknum warga.
Akar masalah bermula ketika lahan seluas 800 hektare diserahkan kepada PT Suwindo, dengan kesepakatan 60 hektare di antaranya dialokasikan sebagai sumber Pendapatan Asli Desa (PAD). Namun, dalam perjalanannya, seorang oknum warga mengklaim secara sepihak bahwa 47 hektare dari lahan PAD tersebut adalah milik pribadinya.
Sengketa ini telah bergulir ke berbagai tingkatan, mulai dari mediasi di Polsek, Polres, Polda, hingga akhirnya berujung di meja hijau. PT Suwindo memenangkan gugatan di Pengadilan Negeri Muara Bungo-Tebo. Tidak terima, oknum warga tersebut mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA).
Guna memuluskan langkahnya, oknum tersebut meminta tanda tangan para tokoh masyarakat dan pemuka agama dengan dalih meminta dukungan moral untuk perjuangan kebun sawit PAD tersebut.
Nahas, kata Arjunif lembar depan surat tersebut diduga diganti menjadi surat pernyataan, bahwa lahan 47 hektare itu adalah miliknya. Seolah-olah bukti tanda tangan pemuka masyarakat sebagai pengakuan dukungan. Berdasarkan bukti manipulatif tersebut, oknum warga memenangkan gugatan di tingkat MA.
Ketegangan memuncak ketika juru sita pengadilan dan jaksa hendak melakukan eksekusi lahan sebanyak tiga kali. Warga dusun menghadang proses tersebut demi mempertahankan tanah desa.
Di sinilah nilai-nilai kebaikan "Hoegeng" diuji dalam diri Arjunif. Sebagai pihak yang netral, ia tidak tergiur oleh bujuk rayu pihak mana pun dan memilih menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara jujur.
Selama empat tahun, Arjunif melakukan pendekatan emosional kepada tokoh masyarakat dengan mendatangi rumah-rumah mereka, manajemen perusahaan berulang kali pertemuan, dan pihak keluarga oknum tersebut, guna merumuskan jalan tengah.
Ia meyakinkan semua pihak agar hak hukum oknum warga terpenuhi sesuai putusan MA, tetapi PAD desa tidak hilang. Akhirnya, tercapai kesepakatan damai pada 2024. Solusi yang ditempuh PT Suwindo membantu menanggulangi dana sebesar Rp1,9 miliar untuk membayar kompensasi kepada oknum warga tersebut.
Dari jumlah tersebut, Rp500 ribu berstatus bantuan murni perusahaan, sedangkan Rp1,4 miliar dianggap sebagai pinjaman masyarakat yang dibayar melalui sistem potong hasil panen kebun sawit 60 hektare selama dua tahun. Kini, konflik rumit itu resmi berakhir. Oknum warga menerima uangnya, dan desa berhasil menyelamatkan asetnya. Pinjaman terhadap perusahaan terlunasi.
Hasil nyata untuk warga desa
Setelah konflik redah, lahan PAD sudah kembali ke tangan masyarakat. Arjunif terus mengawal pengelolaan kebun sawit seluas 60 hektare milik desa tersebut agar pemanfaatannya transparan.
Awalnya, lahan tersebut sempat disewakan kepada orang berpengaruh di dusun, namun sistem pembayarannya tidak jujur dan merugikan desa. Hanya senilai Rp70 juta per tahun/hektare atau sekitar Rp800 juta/tahun untuk lahan 60 hektare tersebut.
Gejolak protes antarwarga desa tak terelakan, karena tidak puas akan bagi hasil tersebut. Di bawah pengawasan Arjunif, masyarakat menarik kembali hak kelola kebun secara swadaya. Ditentukan hasil secara terbuka dalam urung rembuk bersama elemen masyarakat.
Hasilnya luar biasa, kebun tersebut sejak setahun terakhir kini mampu menghasilkan PAD sebesar Rp1,4 miliar per tahun. Dari dana PAD kebun sawit inilah roda ekonomi dan sosial Dusun Sepunggur berputar. Karena Bantuan Langsung Tunai (BLT) setiap Kepala Keluarga (KK) menerima bantuan tunai sebesar Rp500.000 sekali dalam enam bulan.
Tak hanya itu, infrastruktur dan keagamaan seperti pembiayaan pembangunan masjid, musalla, lapangan sepak bola, serta fasilitas kepemudaan. Kemudian operasional desa, gaji perangkat desa, tokoh masyarakat, dan pemuka adat ditopang penuh oleh hasil kebun ini.
"Saya sempat ditanya seorang tokoh, apa yang didapat dengan memperjuangkan puluhan hektare kebun untuk kepentingan desa. Sama sekali saya tidak menerima imbalan dari pihak manapun. Itu terkonfirmasi juga oleh sejumlah tokoh kepada atasan,"tuturnya.
Bagi Arjunif mencari jalan tengah yang saling membuat semua pihak legah adalah tugas. Bahkan, ia malah mengusulkan langkah antisipasi bisnis ke depan agar sebagian hasil PAD disisihkan untuk perluasan lahan baru.
Hal ini bertujuan agar saat pohon sawit yang ada saat ini memasuki masa peremajaan (replanting), desa sudah memiliki kebun produktif cadangan untuk bisa jadi pemasukan bagi masyarakat.
"Yang namanya masyarakat terpikir hanya saat ini saja. Berapa hasil kebun sawit dari PAD dibagi-bagi saja. Ya, tak bisa dipaksakan juga," cerita Arjunif.
Kehadiran sosok Bhabin Arjunif cukup dirasakan oleh masyarakat karena dampaknya jangka panjang dimultisektor, benarkah kenyataan demikian?
Mantan Sekretaris Desa Sepunggur Ronianto (38) menyampaikan bahwa kehadiran Bhabin Arjunif sangat dirasakan karena membawa perubahan ke tengah masyarakat. Bahkan, sulit terlupakan bagi masyarakat bagaimana seorang Bhabinkamtibmas berada diposisi tengah dalam penyelesaian konflik lahan sawit plasma 60 hektare untuk PAD.
"Kegigihan Pak Arjunif mengkomunikasikan dan gesosiasi untuk mencari jalan tengah, akhirnya tuntas dan selesai dengan solusi saling senang. Kini hasil produksi lahan kebun sawit yang dikelola koperasi unit desa sudah dinikmati masyarakat,"kata Roni mengaku sebagai saksi hidup.
Menurut dia, banyak gagasan yang diberikan oleh Babinkamtibmas Arjunif dalam berbagai hal terhadap masyarakat. Seiring penyelesaian konflik lahan, ia mendorong masyarakat membentuk kelompok tani bidang perikanan dan perkebunan.
Termasuk merubah pola pikir masyarakat yang selama ini beraktivitas mencukupi ekonomi keluarga dengan penambangan emas tanpa izin dengan sistem mesin dompeng. Kemudian bersama Bhabin diubah cara pandang agar lahan difungsikan menjadi kebun, yaitu kelapa sawit.
"Ya, dia ikut terlibat mencari bibit-bibit yang bagus dan terus mendorong masyarakat, bahkan langsung mencontohkan buka lahan sendiri sehingga masyarakat berubah cara pikirnya," katanya.
Roni menambahkan, dirinya bersama masyarakat menyadari bahwa perusak lingkungan dan menambang tanpa izin punya risiko, dan lalu dengan adanya inspirasi yang diberikan oleh Bhabin dan melihat langsung contohnya sehingga masyarakat bisa mengikuti. Untuk memotivasi warga, Arjunif juga membuka dua hektare kebun sawit pribadi sebagai lahan percontohan.
Menggunakan bibit unggul, kebunnya sudah berbuah dalam waktu 22 bulan. Seluruh proses pengelolaan, pemanenan, hingga penjualan ke pabrik diserahkan kepada warga lokal.
"Mengubah pola pikir masyarakat itu seperti memandikan kuda. Kita harus masuk terlebih dahulu ke dalam air, baru kudanya akan ikut. Tidak cukup hanya dengan kata-kata, seruan, atau imbauan," tutur Arjunif.
Inovasi dan Inspirasi Masyarakat
Aipda Arjunif sejak menjadi Bhabin tidak membatasi perannya hanya pada urusan keamanan, tetapi menghadirkan
inovasi. Ia jeli melihat potensi wilayah.
Selama tiga tahun, ia menggerakkan masyarakat untuk menyulap lahan tidur dan lubang bekas penambangan emas tanpa izin (dompeng) menjadi embung untuk cadangan air saat terjadi kesepakatan hutan dan lahan. Supaya embung tak hanya menampung air saja, sekaligus dijadikan kolam untuk budidaya ikan di 32 unit.
Ia membina dua kelompok tani yang beranggotakan sekitar 30 orang (Kelompok Sejahtera dan Kelompok Embung Air Hitam) agar mereka memiliki alternatif penghasilan selain berkebun karet.
Suami dari Rina Susmita itu tidak sekadar memberi perintah dan seruan dengan kata-kata saja, tetapi ia terjun langsung mencangkul dan ikut mendanai sendiri membuka akses jalan menuju embung itu, dan membantu bibit ikan.
Ia menggandeng Universitas Muara Bungo (UMB) melalui program pengabdian masyarakat untuk melatih warga membuat pakan ikan mandiri.
Kemudian melobi Dinas Kelautan dan Perikanan setempat hingga mendapatkan bantuan 25 ribu bibit ikan dan dana stimulan dari Dana Desa sebesar Rp21 juta. Tahap kedua bantuan pakan 6,1 ton dan bibit 23 ribu ekor. Kendati hasil jauh dari harapan, hanya bisa untuk membantu sedikit perekonomian masyarakat.
"Budidaya ikan pakan yang menjadi beban besar, dan banjir selalu mengancam menjelang musim panen, akibat kerugian ratusan juta," ujar Arjunif.
Salah seorang warga sekaligus mantan Kepala Dusun Sepunggur Fauza (46), menyampaikan bahwa perkembangan di desa sejak Bhabin Arjunif terlihat dan nyata perubahan karena. Sosok ramah itu banyak membawa inovasi sehingga menjadi inspirasi dan teladan bagi masyarakat.
Apapun kegiatan masyarakat beliau selalu terlibat dan selalu memberi contoh, misalnya dalam membuka lahan perkebunan pertanian juga membentuk kelompok-kelompok tani dan kelompok perikanan.
Nah, tujuan beliau membuat sebagai contoh sendiri adalah agar masyarakat ikut meniru praktik baik tersebut.
Ketika masyarakat yang melakukan apa yang dianjurkan dan diperbuat oleh Bhabin, maka berdampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat itu sendiri hingga sekarang.
"Kegiatan kepemudaan beliau juga selalu terlibat dalam mendukung dan mendorongnya. Begitu kegiatan sosial keagamaan," tutur Fauza.
Balasan Tulus Masyarakat
Kecintaan warga yang begitu besar kepada Arjunif dibuktikan dengan dibangunnya sebuah rumah dinas Bhabinkamtibmas secara swadaya oleh masyarakat senilai Rp100 juta lebih di atas lahan ukuran 8 x 7 meter persegi.
Arjunif melihat antusias masyarakat itu turut menyumbang Rp10 juta dari kantong pribadinya, dan ada pula dibantu tambahan Rp30 juta dari dana kemitraan.
Rumah dinas seperti kualitas villa mini itu multifungsi, kini digunakan sebagai pos pengamanan logistik pemilu hingga tempat singgah mahasiswa yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN).
"Selama saya dinas di sana, masih disebut rumah dinas Bhabin. Bagi yang ingin menggunakan untuk berbagai kegiatan tetap masyarakat minta izin saya,"ujar Arjunif.
Tindakan nyata yang dimulai sejak oleh Bhabinkantibmas ini, hingga kini menolak padam. Kini, fungsi Arjunif di mata warga telah melebar luas. Ia bertindak juga sebagai konsultan peternakan darurat —berbekal pengalamannya memelihara sapi saat SMP di Kerinci--.
Ia kerap membantu mengobati sapi warga yang sakit atau mendampingi proses sapi melahirkan. "Benar ada warga ketika sapi akan melahirkan anak, saya juga yang dihubungi," ujarnya sambil senyum tipis.
Selain itu, ia juga kerap mengantar warga sakit ke puskesmas dan rumah sakit. Kalai menjenguk warga sakit selalu membawa buah atau kue bolu, membantu pengurusan KTP, SIM, hingga akta kelahiran.
Di Bagian lain, setiap kasus kecelakaan yang terjadi di wilayah binaannya (dua desa, red) tidak pernah naik kasusnya ke tingkat polsek, karena selalu ditempuh jalan damai, tetapi santunan dari Jasa Raharja tetap dibantu dalam mengurusnya.
Sementara di bidang sosial keagamaan, ia aktif bergotong-royong memperbaiki masjid, menyosialisasikan bahaya narkoba serta menangi masalah KDRT, hingga menginisiasi program umrah kolektif.
Arjunif menyampaikan, pada suatu ketika ada warga di desa yang hendak berangkat ibadah umroh. Maka disarankan, kalau mendaftar jangan sendiri-sendiri.
Apabila ada delapan orang warga yang ingin berangkat mendaftar secara kelompok, karena akan mendapatkan bonus satu voucer umrah gratis dari agen travel. Jadi bisa dialokasikan untuk memberangkatkan warga kurang mampu yang taat beribadah.
Bagi Arjunif, begitulah cara mengambil hati masyarakat dan harus rela berkorban. Atas segala dedikasi tanpa batas tersebut, Arjunif dihujani berbagai penghargaan dari tingkat Polsek, Polres, Polda, hingga Kapolri dan kepala daerah.
Puncaknya, pada 2025 yang lalu, ia resmi meraih penghargaan tingkat nasional Hoegeng Corner pada 2025 sebagai Bhabinkamtibmas Inovatif.
Sepuluh tahun berlalu sejak penugasan pertamanya di pada 2016, Aipda Arjunif membuktikan bahwa seragam Bhabinkamtibmas bukan sekadar tugas administratif. Baginya, pekerjaan ini adalah sebuah jalan pengabdian tertinggi.
Motto hidup bapak tiga anak ini Menjaga keseimbangan begitu penting "mengabdi kepada negara, tak berjarak dengan masyarakat, dan memikirkan keluarga," tutupnya.
Pewarta: Siri AntoniEditor : Nanang Mairiadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.