Jambi (ANTARA) - “Pengelolaan limbah yang baik merupakan langkah nyata dalam menjaga kualitas lingkungan sekaligus meningkatkan keberlanjutan industri batik lokal.” Kalimat itu disampaikan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jambi (UNJA), Prof. Amirul Mukminin, M.Sc. Ed., PhD., di sela kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang digelar di Sanggar Batik Selaras Pinang Masak, Senin (19/7).

"Hari itu, LPPM UNJA tidak datang dengan tangan kosong: sepuluh unit alat filtrasi limbah diserahkan langsung kepada para pengrajin Koperasi Batik Kajang Lako Jambi, sebagai solusi atas persoalan limbah cair pewarnaan yang selama ini kerap luput dari perhatian," kata Amirul Mukminin.


Kegiatan yang mengusung tema “Pendampingan Penerapan Green Accounting dan Pengelolaan Limbah Batik” ini merupakan hasil kolaborasi LPPM UNJA dengan Koperasi Batik Kajang Lako Jambi, sekaligus bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dan dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) pada aspek konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Rangkaian kegiatan diawali dengan diskusi interaktif bersama Ketua Tim Pengabdian, Dr. Azolla Degita Azis, MBA., M.Ak., CA., dan Dosen Teknik Lingkungan, Merisa Rahma Mawaddah, S.Si., M.Sc. Keduanya memperkenalkan konsep Material Flow Cost Accounting, pendekatan menghitung biaya limbah yang mendorong pelaku usaha batik untuk tak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memperhitungkan dampak lingkungan dari setiap proses produksi.

Setelah sesi pemaparan, peserta diajak menyaksikan langsung demonstrasi perakitan dan simulasi penyaringan limbah cair pewarnaan batik. Media filtrasi yang digunakan sengaja dirancang sederhana, mudah dioperasikan, dan ekonomis, sehingga dapat langsung diterapkan oleh industri batik skala rumah tangga.

Bagi Prof. Amirul, kegiatan ini menjadi salah satu wujud konkret dari visi Kampus Berdampak yang digagas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, visi yang menekankan agar hasil riset dan pengabdian akademisi tidak berhenti di ruang kuliah atau jurnal ilmiah, melainkan benar-benar sampai dan bermanfaat bagi masyarakat.

“LPPM Universitas Jambi berkomitmen untuk terus mendampingi para pengrajin melalui kegiatan monitoring, evaluasi, serta penelitian lanjutan, sehingga inovasi yang telah diperkenalkan dapat diterapkan secara berkelanjutan,” ujar Prof. Amirul. Penyerahan alat filtrasi, tegasnya, bukan menjadi titik akhir program, melainkan awal dari pendampingan jangka panjang bagi para pengrajin.

Langkah LPPM UNJA ini turut mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jambi. Pelaksana Tugas Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, Ari Ridho Fadila, menilai program pendampingan ini selaras dengan upaya pemerintah mengembangkan industri hijau yang berdaya saing dan berwawasan lingkungan.

“Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku usaha menjadi kunci dalam memperkuat keberlanjutan industri kreatif daerah,” ujarnya.

Dengan bantuan sepuluh unit alat filtrasi ini, para pengrajin di Sanggar Batik Selaras Pinang Masak kini memiliki modal awal untuk mengelola limbah produksi secara lebih aman sebelum dibuang ke lingkungan. Melalui kegiatan ini, UNJA kembali menegaskan komitmennya menghadirkan inovasi yang tak hanya berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberi solusi nyata bagi masyarakat, sinergi kampus, pemerintah, dan pelaku usaha yang diharapkan mendorong lahirnya industri batik Jambi yang lebih hijau, berdaya saing, dan berkelanjutan.




 



Pewarta: Nanang Mairiadi
Uploader : Ariyadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026