Kota Jambi (ANTARA) - Tim Posyandu Provinsi Jambi menggelar bakti sosial membuka layanan terapi massal bagi penyandang disabilitas gangguan pendengaran atau tunarungu dengan melibatkan masyarakat kurang mampu dan siswa sekolah luar biasa (SLB) dari kabupaten/kota yang ada di wilayah tersebut.
"Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya mereka rasakan, mudah-mudahan ini menjadi motivasi kita untuk bisa memberikan manfaat kepada masyarakat Provinsi Jambi," kata Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Jambi Hesnidar Haris di Kota Jambi, Sabtu.
Menurut dia, program terapi pendengaran ini melibatkan Tim Posyandu di daerah, pesertanya merupakan pelajar dari sekolah luar biasa di 11 kabupaten/kota termasuk warga kurang mampu.
Jumlah peserta yang ikut dalam program ini, jumlahnya mencapai 200 orang. Kegiatan ini sepenuhnya dibiayai oleh mitra pendukung dari perusahaan yang ada di Jambi.
Mereka dikumpulkan di pendopo Kantor Gubernur Jambi, menjalani program terapi pendengaran.
Kegiatan bakti sosial ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ia menambahkan, program terapi ini merupakan usaha tim Posyandu, pemerintah dan badan usaha lain yang terlibat, membantu mewujudkan harapan warga yang mengalami gangguan agar bisa kembali mendengar.
Nantinya, program ini akan berlangsung selama dua hari. Bagi masyarakat umum yang ingin mengikuti terapi, bisa datang secara mandiri dengan biaya sendiri.
"Tempat ini akan kita sediakan, jika besok ada yang mau mengikuti terapi secara mandiri, tentunya dengan biaya sendiri," ujarnya.
Gubernur Jambi Al Haris menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan bakti sosial terapi pendengaran yang diinisiasi oleh Posyandu.
Menurut dia, kegiatan semacam ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus.
Oleh sebab itu, ia berharap program seperti ini bisa dilakukan secara berkesinambungan demi mendukung kesehatan masyarakat penyandang disabilitas khususnya masalah pendengaran.
"Kita sangat memahami dan merasakan bahwa kadang kita ini kurang peduli dengan hal-hal seperti ini, padahal masih banyak di sekitar kita anak-anak yang kondisinya perlu menjadi perhatian kita bersama, khususnya anak-anak tuna rungu," kata Al Haris.
Pewarta: Agus SuprayitnoEditor : Siri Antoni
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.