Jakarta (ANTARA) - Kualitas udara Jakarta masih berada pada level merah atau tidak sehat berdasarkan pemantau kualitas udara internasional AirVisual pada Sabtu pagi sekitar pukul 06.00, satu hari menjelang Hari Raya Iduladha 1440 Hijriah.

Pada laman resmi AirVisual tercatat bahwa Jakarta mempunyai indeks kualitas udara atau air quality index (AQI) sebesar 168 dengan parameter berupa partikel polutan sangat kecil berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer (PM 2.5).

Menurut laman yang sama, konsentrasi PM 2.5 di udara Jakarta saat ini sebanyak 87,5 mikrogram per meter kubik. Padahal menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), angka standarnya hanya 25 mikrogram per meter kubik dalam jangka waktu 24 jam.

Dengan begitu, Jakarta berada di posisi teratas negara-negara dengan polusi udara terburuk di dunia.

Peringkat tersebut disusul oleh kota Dhaka, Bangladesh dengan angka AQI sebesar 158.

Rawamangun, Jakarta Timur, menjadi wilayah berkualitas udara terburuk dengan AQI sebesar 192. Lalu di bawahnya ada Mangga Dua Selatan, Jakarta Pusat, dengan AQI 172 dan Pegadungan, Jakarta Barat, dengan AQI 163.

Dengan angka AQI untuk rerata wilayah, kualitas udara Jakarta bisa meningkatkan gangguan pada jantung dan paru-paru.

Kelompok sensitif mempunyai risiko tinggi terganggu kesehatannya akibat kualitas udara buruk saat ini.

Untuk itu, kelompok sensitif direkomendasikan mengurangi kegiatan luar ruangan. Sementara masyarakat yang berkegiatan di luar rumah dianjurkan untuk mengenakan masker polusi.

Pewarta: Suwanti
Editor: Chandra Hamdani Noor
Copyright © ANTARA 2019