Pemrotes Hong Kong bawa pesan demokrasi mereka ke Konsulat AS

Pemrotes Hong Kong bawa pesan demokrasi mereka ke Konsulat AS

Seorang pengunjuk rasa mengacung-acungkan poster selama aksi protes di kawasan Central, Hong Kong, China, Minggu (8/9/2019). ANTARA/REUTERS/Kai Pfaffenbach/TM

Hong Kong (ANTARA) - Para pengunjuk rasa Hong Kong yang menyerukan demokrasi bagi kota yang dikuasai China tersebut berencana membawa pesan mereka ke Konsulat AS pada Minggu, setelah kerusuhan lain terjadi pada malam sebelumnya dalam gelombang protes 14 pekan.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper pada Sabtu mendesak Pemerintah China agar menahan diri di Hong Kong.

Esper mengeluarkan seruannya di Paris saat polisi Hong Kong menghalangi pemrotes untuk memblokir akses ke bandar udara kota itu. Polisi menembakkan gas air mata pada malam kedua berturut-turut di kawasan Mong Kok, yang padat penghuni.

Baca juga: Polisi Hong Kong tembakkan gas air mata dan merica pada pemrotes

Pemrotes melakukan pembakaran di jalan dan beberapa dari mereka ditangkap.

Hong Kong, bekas koloni Inggris, dikembalikan kepada China pada 1997 berdasarkan formula "satu negara, dua sistem", yang menjamin kebebasan yang tidak dinikmati di China Daratan. Banyak warga Hong Kong khawatir Beijing mengikis otonomi itu.

China membantah tuduhan campur-tangan dan mengatakan Hong Kong adalah urusan dalam negeri. Beijing telah mencela aksi protes tersebut, juga menuduh Amerika Serikat serta Inggris menyulut kerusuhan. China memperingatkan mengenai kerugian ekonomi.
Para pengunjuk rasa mengibarkan bendera-bendera AS saat mereka berpawai menuju Konsulat Jenderal Amerika Serikat di kawasan Central, Hong Kong, Minggu (8/9/2019).  ANTARA/REUTERS/Amr Abdallah Dalsh/TM


Pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengumumkan konsesi pekan lalu dengan tujuan mengakhiri protes, termasuk secara resmi mencabut rancangan undang-undang ekstradisi yang ditentang banyak kalangan itu. Tapi, banyak orang mengatakan konsesi itu terlalu sedikit, sangat terlambat.

Lam mengatakan Beijing "mendukung semua yang dia lakukan".

Baca juga: Pemimpin Hong Kong rencanakan temu media setelah cabut RUU ekstradisi

RUU itu, yang memicu protes pada Juni, membuka kemungkinan pengekstradisian tersangka pelanggar hukum ke China Daratan untuk diadili di pengadilan yang dikuasai Partai Komunis. Hong Kong memiliki sistem pengadilan mandiri sejak era kekuasaan Inggris.

Namun sejak itu, demonstrasi telah berubah menjadi seruan bagi demokrasi lebih luas dan banyak pemrotes telah berjanji akan berjuang terus.

Departemen Luar Negeri AS mengubah saran perjalanannya ke Hong Kong dan memperingatkan bahwa warga negara AS serta pegawai Konsulat telah menjadi sasaran propaganda belum lama ini oleh China "untuk secara palsu menuduh Amerika Serikat menyulut kerusuhan".

Secara keseluruhan, tingkat risiko masih berada di titik kedua terendah dari empat tingkat, setelah dinaikkan pada 7 Agustus untuk mencerminkan peningkatan kerusuhan.
 
Sumber: Reuters

Baca juga: Kanselir Merkel kembali serukan solusi damai bagi Hong Kong

Baca juga: Polisi Hong Kong perketat pemeriksaan ke bandara cegah kekerasan malam

Presiden Ingatkan WNI di Hong Kong Amalkan Pancasila

Pewarta : Chaidar Abdullah
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2019