BPOM sampaikan kemajuan pengawasan di Jenewa

BPOM sampaikan kemajuan pengawasan di Jenewa

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito (kanan) bersama Dirjen WHO Thedros Adhanom (kiri) di Markas Besar WHO di Jenewa, Swiss, Kamis (24/10/2019). ANTARA/Dokumen BPOM

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, Penny Lukito di Jenewa, Swiss, menyampaikan kemajuan menangani peredaran obat substandar dan palsu untuk memberikan jaminan akses obat aman, berkhasiat dan bermutu kepada masyarakat.

"Penanggulangan obat palsu sejalan dengan program Nawacita yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, produktivitas rakyat dan kesejahteraan masyarakat," kata Penny dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Dia menyampaikan kemajuan itu dalam pertemuan Member States Mechanism on Substandard and Falsified Medical Products (MSM-SFMP) ke-8 di Markas Besar WHO di Jenewa, Swiss, Kamis (24/10).
Baca juga: BPOM akan wajibkan lapak daring seleksi produk yang akan dijual

MSM-SFMP merupakan sebuah forum kolaborasi global untuk mengatasi peredaran obat substandar dan palsu yang melibatkan sejumlah negara, dengan membangun sistem yang meliputi upaya pencegahan, pelaporan deteksi dan respon cepat untuk mengeradikasi peredaran obat substandar dan palsu.

Penanganan obat substandar dan palsu, kata dia, terus menjadi perhatian serius dunia. Risiko peredaran obat ilegal, substandar dan/atau palsu menjadi semakin meningkat dengan meluasnya perdagangan dalam jaringan.

BPOM, kata dia, mewujudkan program pengawasan itu lewat pencanangan Aksi Nasional Pemberantasan Obat Ilegal dan Penyalahgunaan Obat (Aksi Nasional POIPO) pada Oktober 2017.
Baca juga: Bukalapak dan Tokopedia siap bangun sistem pengawasan dengan BPOM
Baca juga: YLKI minta BPOM lebih aktif awasi pelabelan imbauan pemanis buatan


Aksi Nasional itu, kata dia, dilakukan melalui pendekatan strategis yaitu pencegahan, deteksi/pengawasan dan respon/penindakan. Strategi yang digunakan ini telah mengacu kepada Strategi Penanggulangan Obat Substandar dan Palsu WHO (Prevention, Detection and Response).

Pencegahan, kata dia, dilakukan dengan menerbitkan peraturan Penerapan 2D Barcode dalam pengawasan obat dan menyusun peraturan tentang pengawasan peredaran obat daring.

Selain itu, Penny mengatakan dilakukan sejumlah upaya kreatif termasuk dilakukan bersama lintas sektor untuk pengawasan melalui kemitraan dengan asosiasi ekspedisi, asosiasi e-commerce, market places dan transportasi online. BPOM juga menggandeng figur publik, influencer dan blogger.
Baca juga: IDI: Cemaran ranitidin juga terdapat di makanan
Pewarta : Anom Prihantoro
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019