Menag: Bagi guru dan siswa jangan jenuh meneguhkan budaya konstitusi

Menag: Bagi guru dan siswa jangan jenuh meneguhkan budaya konstitusi

Kegiatan Malam Puncak Anugerah Konstitusi Tahun 2019 Mahkamah Konstitusi, di Jakarta, Jumat, (15/11/2019) (Boyke Ledy Watra)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi pada Malam Puncak Anugerah Konstitusi Tahun 2019 menyampaikan pesan agar para guru dan siswa jangan berhenti maupun jenuh untuk meneguhkan budaya konstitusi.

"Tidak ada kata berhenti dan jenuh untuk meneguhkan budaya pada konstitusi bagi guru dan siswa, generasi muda dan semua masyarakat kita," kata Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi di Jakarta, Jumat.

Pada kegiatan tersebut menteri agama juga menyampaikan tiga pesan bagi guru dan murid untuk selalu menjaga budaya konstitusi dan nilai Pancasila.

Pertama, kata dia, guru dan murid supaya semakin meningkatkan kreativitas dan inovasi pembelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKN) dengan mengedepankan berpikir kritis dan berakhlak baik.

"Dengan critical thinking yang memadai, para siswa akan terhindar dari wabah hoaks, mereka mampu memilah mana berita terpercaya dan mana yang hoaks, para siswa mampu membedakan mana fakta dan mana opini asumsi," kata dia.

Pesan kedua Menag Fachrul meminta para guru PKN agar terus memperbarui bahan materi pelajaran PKN agar dinamis.

"Jangan hanya berkutat pada buku atau modul yang disusun lima tahun lalu yang bisa jadi sudah tidak relevan dengan isu-isu kekinian," ucapnya.

Kemudian, yang ketiga dia menitipkan agar kurikulum dan pembelajaran pendidikan agama di madrasah maupun di sekolah semakin mampu memberikan pembentukan sikap kesalehan dan ketaatan.

"Sikap kesalehan dan ketaatan dalam beragam baik secara individual maupun sosial agar misi agama sebagai penebar kedamaian terjewantahkan dalam praktik kehidupan nyata," ujarnya.

Baca juga: Menag: Indeks pengguna medsos sebarkan konten agama capai 39,89

Baca juga: Menag pastikan pemerintah kembangkan gerakan literasi keagamaan

Baca juga: Menag ingin akhiri polemik radikalisme
Pewarta : Boyke Ledy Watra
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019