Gempa-tsunami-gerhana adalah ayat-ayat Allah SWT, sebut ulama Aceh

Gempa-tsunami-gerhana adalah ayat-ayat Allah SWT, sebut ulama Aceh

Ratusan jamaah mendengarkan khatib Ustadz Faizal Adriansyah menyampaikan khutbah shalat gerhana matahari di Masjid Oman Al Makmur, Banda Aceh, Kamis (27/12/2019). (FOTO ANTARA/M Said)

Banda Aceh (ANTARA) - Seorang ulama asal Aceh, Ustadz Faizal Adriansyah menyebut dalam kitab suci umat  Islam Al Quran dijelaskan bahwa gempa bumi yang diikuti gelombang tsunami 15 tahun silam dan peristiwa gerhana matahari cincin yang terjadi kali ini dan bakal terulang merupakan ayat-ayat Allah SWT.

"Ya, baik gempa, tsunami dan gerhana adalah ayat-ayat Allah SWT. Kita bisa bicara ayat Allah itu ada yang tertulis, yakni Al Quran. Tapi ada ayat yang tidak tertulis, berupa alam," katanya usai menjadi khatib shalat gerhana matahari di Masjid Oman Al Makmur, Banda Aceh, Kamis.

Menurutnya, peristiwa gempa bumi disusul gelombang tsunami dengan ketinggian mencapai puluhan meter yang meluluhlantakkan daratan Aceh 15 tahun silam, dianggap sebagai musibah, terutama di daerah pinggiran pantai yang menelan korban sekitar 170 jiwa.

Sedangkan peristiwa gerhana, seperti matahari merupakan peristiwa alam terjadi langka, karena planet bumi, bulan serta matahari sejajar yang sudah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa kiamat sangatlah dahsyat yang berawal dari runtuhnya langit.

"Hanya saja tsunami itu, bencana yang menimpa kita. Maka orang bertanya kenapa tidak ada shalat?. Ya waktu tsunami, nggak ada shalat. Tetapi shalatnya sebelum tsunami, seperti memenuhi masjid, melaksanakan ibadah dengan baik sehingga kita berdoa kepada Allah SWT agar tidak akan ada bencana,"  katanya.

Faizal yang merupakan penasihat Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh menjelaskan, tidak ada kaitan antara peristiwa gempa bumi dan gelombang tsunami dengan gerhana matahari meski berbeda 15 tahun.

Ia menjelaskan, bencana di bumi ini cuma terjadi sebagian saja. Walau alam semesta ini akan hancur, lanjutnya, bukan hanya bumi saja, melainkan ruang angkasa jika sudah waktunya.

"(Memaknai dua peristiwa alam ini) yang penting masyarakat di Aceh, pertama mereka bangkit dari ujian Allah SWT ini agar kembali membangun dan mendoakan syuhada tsunami. Sementara untuk ke depan, perbanyak kita medekatkan diri kepada Allah SWT," katanya.

"Mendekatkan diri kepada Allah SWT itu, akan menghindari dari bencana. Insya Allah," kata Faizal Adriansyah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, gerhana matahari kali ini bertepatan dengan kejadian fenomena alam gempa bumi dan gelombang tsunami yang meluluhlantakkan sejumlah wilayah daratan Aceh akibat interaksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia di kawasan Perairan Aceh pada 26 Desember 2004 silam.

Pada Ahad, 26 Desember 2004, provinsi berjuluk "Serambi Mekkah" ini diguncang gempa bumi berkekuatan 9,1 Skala Richter (SR) di laut dan titik episentrum yang memiliki jarak sekitar 149 kilometer dari Meulaboh, Aceh Barat.

Gelombang tsunami yang terjadi mencapai ketinggian 30 meter dan menewaskan total 230.000 jiwa di 14 negara, dan menenggelamkan sejumlah permukiman pesisir. Indonesia merupakan negara yang dampaknya paling parah selain Sri Lanka, India, dan Thailand.

Baca juga: Gerhana matahari cincin perdana melintasi Aceh

Baca juga: Ribuan masyarakat Simeleu tunaikan shalat gerhana matahari

Baca juga: Gerhana matahari cincin terlihat sempurna di Simeulue
Pewarta : Muhammad Said
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019