Terjadi persaingan figur parpol dan non-parpol di Pilkada Surabaya

Terjadi persaingan figur parpol dan non-parpol di Pilkada Surabaya

Pusat Riset Pilkada Jatim JTV bersama dengan Tim Survei Pilkada Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) saat merilis hasil survei terkait Pilkada Surabaya di JTV Surabaya. (ANTARA Jatim/Abdul Hakim)

Surabaya (ANTARA) - Pusat Riset Pilkada JTV bekerja sama dengan Tim Survei Pilkada Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkirakan akan terjadi persaingan figur dari parpol dengan figur non-parpol cukup ketat di Pilkada Surabaya 2020.

Kepala Pusat Riset Pilkada JTV Machmud Suhermono, di Surabaya, Jumat, mengatakan meski Pilkada Surabaya 2020 diprediksi akan menjadi panggung pertarungan bagi partai-partai besar seperti PDIP, PKB, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, PKS, dan PSI, namun figur-figur non-parpol juga mendapat perhatian publik Surabaya dan siap menjadi pesaing kuat dari figur-figur yang diusung parpol.

"Jika tren di survei pertama ini berlanjut hingga hari coblosan, maka terjadi persaingan figur dari parpol dengan figur non-parpol cukup ketat di Pilkada Surabaya 2020," kata Machmud.

Menurut dia, setelah menemukan karakteristik pemimpin dan permasalahan pokok yang dianggap penting warga Surabaya yang dirilis pada 14 Februari 2020, pihaknya kembali menyelenggarakan survei pada 12 Februari–19 Februari 2020. Survei kali ini untuk mengukur tingkat pengenalan (popularitas) dan keterpilihan (elektabilitas) figur-figur yang siap berkompetisi dalam Pilkada Surabaya 2020.

Riset ini menggunakan multi-stage random sampling dengan melibatkan 450 responden berusia 17 tahun ke atas (memiliki hak pilih). Sampel diambil di seluruh wilayah di Surabaya, dengan jumlah sampel tiap wilayah proporsional terhadap jumlah penduduk Surabaya. Rentan margin of error sebesar 2,5 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Kepala Pusat Studi Potensi Daerah Dan Perberdayaan Masyarakat LPPM Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Sutikno sebelumnya mengatakan dari sisi popularitas, nama-nama yang sudah banyak dikenal publik mencapai tingkat pengenalan (popularitas) yang merata yakni cawali petahana Wisnu Sakti Buana (Wakil Wali Kota Surabaya) meraih pengenalan tertinggi hingga 39,21persen, disusul anggota DPR RI dari Partai Golkar Adies Kadir dan Presiden Klub Persebaya Azrul Ananda mendekati Wisnu di posisi kedua dan ketiga dengan tingkat pengenalan 30,90 persen dan 29,66 persen.

Nama-nama lain yang punya potensi besar siap mendongkrak popularitas dengan berbagai aktivitas adalah politisi kawakan Fandi Utomo 25,73 persen, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Eri Cahyadi 17,84 persen, dan Mantan Kapolda Jatim Machfud Arifin 11,93 persen.

Pengacara dan bakal calon lewat jalur independen M.Sholeh meraih popularitas hampir setara dengan tokoh asal Jombang Zahrul Azhar Asumta yang akrab dipanggil Gus Hans dengan perolehan popularitas masing-masing 6,70 persen dan 5,60 persen.

Figur lain yang juga muncul dalam survei tingkat keterkenalan adalah Ketua Pansus Perubahan Nama Jalan Fathul Muid 5,00 persen, Ketua Partai Berkarya Surabaya Usman Hakim 3,84 persen, Ketua Partai Perindo Surabaya Samuel Teguh 3,32 persen, dan Dirut PDAM Surabaya Mujiaman Sukirno 2,94 persen.

Adapun untuk tingkat elektabilitas, Wisnu Sakti Buana kembali mencatat persentase tertinggi 5,47 persen, disusul Kepala Bappeko Eri Cahyadi 5,04 persen, Presiden klub Persebaya Azrul Ananda tak bergeser posisinya di urutan ketiga dengan elektabilitas 4,76 persen, Adies Kadir 2,62 persen, Fandi Utomo 2,39 persen, Gus Hans 1,74 persen, dan Machfud Arifin 1,35 persen.

"Karena masih awal, persentase popularitas dan elektabilitas ini masih terlalu dini jika dijadikan acuan siapa wali kota dan wakil wali kota Surabaya berikutnya. Masih ada waktu 7 bulan, semua bisa berubah. Tergantung strategi pendekatan ke publik dan media serta aktivitas masing-masing bakal calon," ujar Sutikno.

Berbeda dengan figur-figur bakal calon wali kota yang persentase popularitas dan elektabilitas hampir merata, sedangkan untuk popularitas dan elektabilitas bakal calon Wakil Wali Kota Surabaya, terjadi dominasi dua figur, yakni Ketua DPRD Surabaya Armuji dengan tingkat popularitas 35,88 persen dan Presiden Klub Persebaya Azrul Ananda 22,78 persen.

Keduanya meninggalkan figur-figur lain seperti mantan aktivis 1998 dan pegiat budaya Taufik Hidayat 6,47 persen, mantan anggota DPRD Surabaya Visensius Awey 6,25 persen, Pengurus Muslimat NU Dwi Astuti 4,64 persen, politisi PKS Reni Astuti 4,05 persen, dan Sekretaris Kota Surabaya Hendro 3,13 persen.

Dominasi semakin terlihat pada survei elektabilitas bakal calon wawali Surabaya. "Armuji dan Azrul Ananda cukup menonjol dengan elektabilitas 5,94 persen dan 3,48 persen," kata Sutikno.

Baca juga: PDIP Surabaya fokus garap mesin politik hadapi Pilkada 2020

Baca juga: Machfud Arifin dapat dukungan Habib Zein maju Pilkada Surabaya

Baca juga: Warga Sawahan Surabaya deklarasi dukung Eri Cahyadi maju Pilkada 2020
Pewarta : Abdul Hakim
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2020