BMKG prakirakan ada potensi hujan ekstrem tapi berpeluang kecil

BMKG prakirakan ada potensi hujan ekstrem tapi berpeluang kecil

Suasana kawasan ibukota yang diselimuti mendung tebal di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (15/4/2010). ANTARA FOTO/Andika Wahyu/pras/aa.

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan adanya potensi hujan ekstrem, namun berpeluang kecil terjadi, sementara yang lebih dominan adalah curah hujan lebat hingga sangat lebat.

"Potensi curah hujan ekstrem masih ada namun tidak sampai setinggi curah hujan tanggal 1 Januari 2020, yang lebih dominan kategori lebat hingga sangat lebat," kata Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG A Fachri Rajab saat dihubungi ANTARA, Jakarta, Minggu.

Curah hujan lebat hingga sangat lebat diprakirakan terjadi di sejumlah daerah di Indonesia mulai 22 Februari 2020 - 24 Februari 2020.

Baca juga: Waspadai potensi cuaca ekstrem penyebab banjir di DIY, sebut BMKG
Baca juga: BMKG Kendari: Waspadai hujan lebat disertai angin kencang


Curah hujan lebat hingga sangat lebat dikarenakan massa udara yang masuk di wilayah Indonesia masih banyak mengandung uap air dan memang adanya daerah pertemuan angin di Indonesia sehingga hujan yang turun berpotensi lebat.

BMKG mengimbau agar masyarakat terus memantau informasi mengenai cuaca dari BMKG dan merencanakan aktivitas sesuai dengan kondisi potensi hujan.

"Misalnya untuk yang beraktivitas di luar ruangan ataupun yang berkendara siapkan payung," ujarnya.

Wilayah yang berpotensi hujan lebat pada Minggu (23/2) adalah Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Maluku.

Baca juga: BMKG: hujan lebat disertai angin kencang masih berpotensi terjadi
Baca juga: Skenario BMKG prediksikan kenaikan curah hujan ekstrem pada 2032-2040


Sementara wilayah yang berpotensi hujan lebat disertai angin kencang, kilat atau petir pada Minggu (23/2) adalah Sumatera Barat, Bengkulu Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jabodetabek, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Gorontalo dan Papua.

Sebelumnya, Kepala Stasiun Klimatologi Sleman Yogyakarta Reni Kraningtyas, dalam keterangan pers yang diterima ANTARA, Sabtu, mengimbau masyarakat agar terus mewaspadai potensi kejadian cuaca ekstrem, yaitu hujan lebat disertai kilat petir dan angin kencang, ataupun hujan dengan durasi yang panjang, karena dapat berdampak terjadinya longsor, banjir dan banjir bandang.

Kondisi cuaca ekstrem tersebut dipicu oleh pertumbuhan awan-awan konvektif atau awan cumulonimbus secara intensif.

Kejadian banjir bandang umumnya dipicu oleh hujan dengan intensitas lebat atau hujan berdurasi panjang, yang terjadi di hulu sungai. Kejadian banjir bandang sering ditandai dengan terlihatnya awan hitam tebal ke arah hulu sungai, meskipun cuaca di daerah hilir sungai cerah atau tidak hujan.

Baca juga: Wali kota Magelang wajibkan pimpinan OPD atasi dampak hujan ekstrem
Baca juga: Hujan dan angin kencang berpotensi landa Jawa Barat hingga pekan depan
Baca juga: BMKG: perubahan lingkungan percepat siklus balik hujan ekstrem

 
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020