Balitbangtan kembangkan teknologi olahan cabai

Balitbangtan kembangkan teknologi olahan cabai

Produk olahan cabai hasil inovasi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) Balitbangtan Kementerian Pertanian (Antara/BB Pascapanen Balitbangtan)

Jakarta (ANTARA) - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) mengembangkan teknologi olahan cabai sehingga produk komoditas hortikultura tersebut memberikan nilai tambah yang besar.

Sebagai bahan pangan yang mudah rusak, menurut Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry di Jakarta, Jumat, cabai tidak tahan disimpan dalam bentuk segar. Oleh karena itu guna mengantisipasi hal tersebut, kata dia, cabai segar bisa diolah menjadi berbagai produk olahan yang bisa meningkatkan nilai tambahnya.

Terkait hal itu Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) Balitbangtan telah mengembangkan beberapa produk cabai kering antara lain cabai utuh kering, bubuk cabai, dan cabai blok.

"Keunggulan produk kering adalah umur simpannya lebih lama yaitu dapat mencapai 12  bulan dengan penyimpanan yang baik. Produk kering lebih mudah didistribusikan, sehingga potensi pemasarannya lebih luas," ujar Fadjry Djufry.

Selain untuk memperpanjang umur simpan dan memberi nilai tambah, lanjutnya, teknologi pengolahan cabai yang ditawarkan Balitbangtan juga mempermudah petani dalam pendistribusian dan yang paling penting dapat bersaing di pasar.

Baca juga: Harga cabai jatuh, Kementan fasilitasi sewa cold storage untuk petani

BB Pascapanen juga mempunyai produk olahan cabai berupa minyak cabai. Minyak cabai merupakan produk olahan yang relatif baru di Indonesia, namun cukup umum ditemukan di berbagai negara Asia lain.

Minyak cabai adalah minyak nabati yang sudah diperkaya citarasa cabai, rasanya pedas, dan berwarna merah yang berasal dari beta karoten yang ada pada cabai.

Keunggulan minyak cabai antara lain teknologi dan peralatannya relatif sederhana, potensi harga jual produk tinggi, serta tanpa menggunakan bahan tambahan maupun pengawet.

Baca juga: Harga cabe rawit anjlok, stok berlebih hingga 27.130 ton

Banyaknya variasi produk olahan perlu menjadi pertimbangan saat petani maupun pengelola UMKM ingin mengembangkan usaha pengolahan cabai.

Kepala BB Pascapanen Prayudi Syamsuri mengatakan alternatif produk cabai yang beragam merupakan daya tarik tersendiri dan bisa juga menjadi referensi bagi calon pelaku usaha maupun bagi konsumen karena mudah diaplikasikan tanpa menghilangkan cita rasa cabai itu sendiri.

"Dengan banyaknya ragam olahan yang kami tawarkan diharapkan harga cabai di pasaran bisa lebih stabil dan losses cabai yang selama ini menjadi masalah tersendiri dapat teratasi selain itu pengembangan usaha UMKM cabai pun lebih baik," ujarnya.

Baca juga: Balitbangtan salurkan benih jagung toleran kekeringan ke NTT

 
Pewarta : Subagyo
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020