KAHMI: Doktor alumni HMI harus tumbuhkan iklim intelektualisme

KAHMI: Doktor alumni HMI harus tumbuhkan iklim intelektualisme

Logo (ist) (ist/)

Jakarta (ANTARA) - Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) mengharapkan doktor-doktor baru alumni HMI lulusan perguruan tinggi terbaik harus mampu memotivasi dan mendorong tumbuh suburnya iklim intelektualisme di Indonesia.

"Tanpa pendidikan dan tumbuh suburnya tradisi budaya keilmuan, Indonesia akan sulit menjadi bagian dari negara maju," kata Ketua Presidium Majelis Nasional KAHMI Prof Dr R Siti Zuhro MA, melalui pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, HMI atau KAHMI adalah organisasi tempat bernaungnya intelektual-intelektual Islam Indonesia, seperti Nurcholis Majid dan Dawam Raharjo yang tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai pemikir terkemuka Indonesia.

Dia mengharapkan para doktor baru itu bukan saja dapat memberikan kontribusi yang besar bagi kepentingan bangsa dan negara, melainkan juga dapat memotivasi dan mendorong tumbuh suburnya iklim intelektualisme dalam masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.

Baca juga: Siti Zuhro: KAHMI tidak perlu dicurigai

KAHMI merilis setidaknya ada 14 doktor berpredikat "cum laude" lulusan universitas terbaik di Indonesia tahun 2019, dengan predikat "cum laude" itu menjadi kebanggaan para anggota KAHMI untuk tetap belajar dan berprestasi meski sudah lama berkarier.

Beberapa nama yang berhasil serta meraih predikat akademik "cum laude", antara lain Dr Fahri Bachmid SH MH. Alumni HMI Cabang Makasar itu menempuh Program Doktoral Bidang Hukum,dengan Konsentrasi Hukum Tata Negara di kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar pada 2019 silam.

Judul disertasi Fahri Bachmid adalah "Hakikat Putusan Mahkamah Konstitusi atas Pendapat Dewan Perwakilan Rakyat Mengenai Dugaan Pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden Menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, **(Impeachment Presiden)**" dengan IPK 3,99.

Selain Fahri Bachmid, ada nama Jajang Burhanuddin Doktor Ilmu Manajemen Jajang diraih dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Misnawaty S Nuna, alumni HMI Cabang Gorontalo yang meraih program profesi Doktor Hukum dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar dengan IPK 3,94.

Kemudian, Ade Fakih Kurniawan yang meraih program profesi Doktor Studi Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan IPK 3,93, Imran dari alumni HMI Cabang Makasar yang berhasil meraih IPK 3,92 di Universitas Mataram (Unram).

Pribakti Budinurdjaja, alumni HMI Cabang Banjarmasin. Ia meraih Doktor dari FK Universitas Brawijaya (UB), Malang dengan IPK 3,92, dan Riha Dedi Priantana juga meraih "cum laude", alumni HMI Komisariat FEB Unsyiah ini mendapatkan nilai IPK 3,9 dari program Doktor Ilmu Akuntansi di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Bahkan, ada yang meraih IPK 4, yakni Indra Cahyadinata, alumni HMI Cabang Bogor yang meraih gelar Doktor Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan dari IPB.

Baca juga: Siti Zuhro sarankan ubah desain kepemiluan di Indonesia

KAHMI meminta alumni HMI mengikuti jejak dari para senior yang sudah menyelesaikan pendidikannya hingga program doktoral.

Siti mengakui para alumni HMI memang tidak hanya bekerja di bidang pemerintahan dan politik semata, tetapi Mereka juga banyak bekerja di sektor publik lainnya seperti advokat atau pengacara, pengusaha, hingga akademisi.

Beberapa alumni HMI yang berhasil hingga posisi paling tinggi di negeri, yakni M Jusuf Kalla, mantan ketua Cabang HMI Makassar.

Ada juga Akbar Tandjung (mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar), dan Hamdan Zoelva (mantan Ketua MK), dan yang saat ini masih menjadi pejabat negara yakni Prof Dr Mahfud MD MH.

"Para kader HMI mempunyai kalimat sakti, 'Yakin usaha sampai'. Kalimat ini menjadi penyemangat untuk berjuang mencapai tangga-tangga kesuksesan," katanya.

Baca juga: Pergerakan Indonesia Maju minta pemerintah beri rasa aman ke rakyat
Pewarta : Zuhdiar Laeis
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020