Kasus COVID-19 Kolombia meningkat di atas 50.000

Kasus COVID-19 Kolombia meningkat di atas 50.000

Seekor anjing memakai masker pelindung terlihat saat protes menuntut pemerintah untuk memberikan bantuan makanan kepada orang miskin, di tengah penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di Bogota, Kolombia, Senin (20/4/2020). REUTERS/Luisa Gonzalez/foc/cfo (REUTERS/LUISA GONZALEZ)

Bogota (ANTARA) - Kasus infeksi virus corona (COVID-19) yang dilaporkan di Kolombia telah meningkat menjadi lebih dari 50.000, demikian diumumkan kementerian kesehatan negara itu pada Minggu.

Sementara itu, jumlah kasus COVID-19 di negara tetangga Kolombia -- Ekuador -- mendekati angka kenaikan yang sama.

Kolombia telah melaporkan 50.939 kasus infeksi virus corona baru dan 1.667 kematian akibat infeksi tersebut. Di Ekuador, jumlah kasus COVID-19 telah melampaui 46.700 dan kematian mencapai 3.896.

Pasien penyakit infeksi virus corona baru itu membanjiri fasilitas kesehatan Ekuador, dan dalam beberapa kasus membuat pihak berwenang tidak dapat mengumpulkan jenazah serta memaksa pemerintah untuk sementara waktu menyimpan jenazah mereka dalam peti pengiriman berpendingin.

Ekonomi Kolombia telah terpukul oleh dua hal, yakni karantina untuk pencegahan penyebaran virus corona yang diberlakukan oleh Presiden Ivan Duque dan penurunan harga minyak.

Negara itu memasuki masa karantina nasional pada akhir Maret, dan karantina diperkirakan akan dicabut pada 1 Juli.

Namun, ketika sektor-sektor tertentu mulai dibuka kembali dan karantina mulai dilonggarkan, para petugas medis di Kolombia bersiap untuk lonjakan kasus COVID-19.

Masa karantina nasional di Kolombia telah menyebabkan ribuan bisnis ditutup, sehingga menyebabkan meningkatnya jumlah pengangguran.

Pada April, pengangguran di Kolombia mencapai 23,5 persen di daerah perkotaan, setara dengan lebih dari 4 juta orang yang kehilangan pekerjaan. Untuk itu, pemerintah Kolombia menjanjikan langkah-langkah bantuan lebih lanjut untuk membantu mereka yang paling terkena dampak.

Menurut kementerian keuangan Kolombia, ekonomi negara itu akan mengalami kontraksi 5,5 persen pada 2020 karena setengah lumpuh yang disebabkan oleh karantina.

Kolombia tampaknya akan memperluas defisit fiskal menjadi 6,1 persen dari produk domestik bruto (PDB) - setara dengan lebih dari 16 miliar dolar AS (sekitar Rp227,64 triliun) - dibandingkan sebelumnya sebesar 2,2 persen dari PDB.

Sumber: Reuters
Baca juga: Kolombia tak akan longgarkan karantina di ibu kota
Baca juga: Kasus positif COVID-19 meningkat di penjara Kolombia
Baca juga: Dokter di Kolombia terusir dari apartemennya karena stigma COVID-19
Pewarta : Yuni Arisandy Sinaga
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2020