ESDM jajaki produksi surfaktan EOR dengan Petrokimia Gresik dan IPB

ESDM jajaki produksi surfaktan EOR dengan Petrokimia Gresik dan IPB

Ilustrasi - Pengeboran sumur migas PT Pertamina EP. ANTARA/HO-Pertamina EP

Jakarta (ANTARA) - Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian ESDM menjajaki kerja sama riset strategis tentang pengembangan dan produksi surfaktan untuk meningkatkan produksi minyak tahap lanjut (enhanced oil recovery/EOR) dengan PT Petrokimia Gresik dan Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC)-Institut Pertanian Bogor (IPB).

"Kerja sama riset strategis ini diharapkan dapat segera dilakukan, tim teknis akan segera membahasnya secara detail," ungkap Kepala Badan Litbang ESDM Dadan Kusdiana,  dikutip dari dalam laman Kementerian ESDM di Jakarta, Senin.

Baca juga: Kementerian ESDM - DPR sepakati asumsi harga minyak 45 dolar AS/barel

Koordinator Kelompok Pelaksana Penelitian dan Pengembangan (KP3) Teknologi Eksploitasi PPPTMGB "LEMIGAS", Usman Pasarai menjelaskan pihkaknya telah lama mengembangkan surfaktan untuk EOR dalam upaya peningkatan produksi minyak.

Metode ini berfungsi menurunkan tegangan antarmuka air dan minyak. Minyak yang terperangkap di batuan dapat terlepas setelah didorong oleh larutan surfaktan yang memenuhi kriteria EOR. Ketika terlepas dari batuan dan membentuk mikroemulsi, minyak akan mudah diproduksi dan dipisahkan dari air saat di permukaan.

Usman menjelaskan PPPTMGB "LEMIGAS" saat ini melakukan riset injeksi kimia EOR untuk Lapangan Jirak milik PT Pertamina EP.

Para peneliti KP3 Teknologi Eksploitasi terus melakukan uji kinerja kimia EOR dalam peningkatan produksi minyak skala laboratorium, untuk memastikan implementasi EOR di lapangan berjalan baik.

Di samping fasilitas sintesa surfaktan dan fasilitas uji EOR, PPPTMGB "LEMIGAS" juga memiliki labortaorium pendukung penelitian untuk keperluan analisa batuan, minyak, dan air formasi lapangan target.

Berdasarkan Indonesia's Oil Proven Data (2015), cadangan minyak Indonesia yang potensial diambil menggunakan EOR mencapai 4,6 miliar STB (stock tank barrel). Oleh karena itu, Usman optimistis implementasi metode EOR akan menambah cadangan dan produksi minyak nasional.

Salah satu kisah sukses keberhasilan metode EOR steam flood di lapangan minyak Duri, Provinsi Riau.

Lapangan yang mulai beroperasi sejak 1954 ini pernah mengalami puncak produksi 65 MBOPD pada tahun 1964 dan setelah itu turun secara signifikan.

Setelah persiapan 18 tahun, Duri Steam Flood Project (DSF) sukses mengimplementasikan metode EOR untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Sejak 1985, produksinya meningkat cukup tajam dan mencapai puncak produksi 296 juta barel pada 1995. Namun, produksinya kemudian terus turun dan saat ini kurang dari 100 MBOPD.

Sementara itu, Direktur Produksi PT Petrokimia Gresik I Ketut Rusnaya menjelaskan pihaknya memiliki unit produksi asam sulfat dengan kapasitas 2x1.800 TPD, sebagai sumber gas SO3 untuk bahan baku surfaktan.

Pihaknya telah bekerja sama dengan SBRC IPB terkait uji coba mini plant sebagai pabrik pembuatan surfaktan sejak Maret 2020.

Petrokimia Gresik menyuplai gas SO3 dari pabrik asam sulfat dan membeli bahan baku metilester yang diproduksi SBRC IPB di Gunung Putri, Bogor.

Rusnaya menargetkan pembangunan pabrik surfaktan skala besar dapat dibangun melalui sinergi bersama dengan Badan Litbang ESDM.

"Kerja sama ini dalam upaya diversifikasi produk dan peningkatan utilisasi unit asam sulfat", sambungnya.

Hal ini didukung pakar surfaktan dan bioenergi SBRC IPB, Erliza Hambali yang telah mengoperasikan mini plant surfaktan untuk EOR/IOR di Gunung Putri Bogor sejak  2018/2019.

Kapasitasnya 1-3 ton/hari dan menghasilkan produk surfaktan dengan IFT <= 10-3 dyne/cm.

Mini plant surfaktan ini membutuhkan kontinyuitas suplai gas SO3. Erliza berharap kerja sama ini dapat menghasilkan surfaktan yang diterima pasar.

Sementara itu, menurut Ketua Komunitas Migas Indonesia Herry Putranto, masih ada 1,3 miliar STB minyak dapat diperoleh dengan menggunakan metode EOR berdasarkan data SKK Migas.

Sudah ada 37 lapangan minyak di Indonesia yang direncanakan akan dioptimalkan melalui EOR. Untuk memenuhi kegiatan tersebut, maka kebutuhan surfaktan EOR di Indonesia akan sangat besar dan pasarnya potensial untuk dikembangkan.

Pasar ekspor surfaktan EOR pun masih terbuka lebar, karena tidak banyak produsen surfaktan EOR dunia.

Produsen kimia surfaktan EOR terkemuka di dunia saat ini masih terbatas, setidaknya ada enam perusahaan besar di antaranya Sasol, Solvay, dan Shell.

Penyedia jasa laboratorium di luar negeri pun belum banyak, baru delapan perusahaan yang menggeluti. Herry mengharapkan PPPTMGB "LEMIGAS" juga memanfaatkan peluang ini.

Baca juga: Indonesia di G20: Penurunan harga minyak jadi momentum pemanfaatan EBT
Baca juga: Pemerintah: produksi minyak 1 juta barel per hari butuh program masif

Pewarta : Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020