Menristek inginkan kemandirian alat kesehatan dan obat modern

Menristek inginkan kemandirian alat kesehatan dan obat modern

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro melakukan uji usap (swab test) di mobile laboratorium biosafety level 2 (BSL-2) yang dikembangkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi di Rumah Sakit Moh Ridwan Meuraksa, Jakarta, Selasa (16/6/2020). ANTARA/HO.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengharapkan kemandirian bangsa dalam berbagai sektor yang mempengaruhi perekonomian Indonesia termasuk di bidang kesehatan khususnya untuk kemandirian alat kesehatan dan obat modern asli Indonesia (OMAI), dan bahan bakar nabati (BBN).

"Di bidang kesehatan, fokus kita ada dua. Pertama, mulai membangun kemandirian alkes (alat kesehatan) dan kedua yang paling penting adalah mengembangkan obat modern asli Indonesia," Menristek Bambang dalam acara Penyerahan Simbolis Dana Prioritas Riset Nasional (PRN) kepada Lembaga Penerima Insentif yang ditayangkan secara virtual, Jakarta, Jumat.

Kemandirian di sektor kesehatan itu diperlukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat dan alat kesehatan.

Menristek Bambang menuturkan impor bahan baku obat selama ini mengganggu upaya untuk memberikan kesehatan kepada seluruh warga negara Indonesia.

Baca juga: Pemerintah danai 305 riset dalam Prioritas Riset Nasional 2020-2024

Baca juga: Kementerian LHK tambah tiga profesor riset baru


Sejumlah 90 persen bahan baku obat di Indonesia didatangkan dari luar negeri. Riset untuk mendukung kemandirian alat kesehatan dan OMAI masuk dalam Prioritas Riset Nasional (PRN) 2020-2024.

Di bidang alat kesehatan, hingga 20 Juni 2020, putera-puteri Indonesia menghasilkan lima jenis ventilator atau alat bantu pernapasan yang berguna untuk penanganan pasien terutama di masa pandemi COVID-19. Sebelumnya, kebutuhan ventilator dipenuhi dari impor, dan ini tentunya menjadi tantangan dalam upaya memberikan pelayanan kesehatan.

Untuk itu, baik riset dan pengembangan maupun industri di bidang kesehatan harus makin kuat untuk menciptakan terobosan dan produk riset dan inovasi yang bermanfaat untuk menjawab kebutuhan bangsa dan menggantikan impor.

Lima ventilator yang dikembangkan anggota Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 yang dibentuk Kementerian Riset dan Teknologi mengantongi izin edar dari Kementerian Kesehatan, setelah lulus uji sertifikasi dari Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan.

Setelah mendapatkan izin edar, kelima ventilator tersebut segera memasuki tahap produksi massal. Sejumlah ventilator buatan dalam negeri sudah diproduksi dan dimanfaatkan oleh rumah sakit dalam membantu menyelamatkan pasien COVID-19.

Lima jenis ventilator tersebut adalah BPPT3S-LEN, GERLIP HFNC-01, Vent-I Origin, COVENT-20 dan DHARCOV-23S.*

Baca juga: Komisi IX DPR dorong penelitian vaksin COVID-19

Baca juga: Pemerintah didesak rancang litbang kemandirian obat
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020