Akademisi Unsyiah: Butuh keterlibatan ulama sosialisasikan COVID-19

Akademisi Unsyiah: Butuh keterlibatan ulama sosialisasikan COVID-19

Pengamat dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh, Dr Muhammad Saleh Sjafei, SH, M.Si. (FOTO ANTARA/HO-dok pribadi)

Banda Aceh (ANTARA) - Pengamat dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh, Dr Muhammad Saleh Sjafei, SH, M.Si menyatakan sosialisasi pencegahan dan penanganan COVID-19 secara efektif di masyarakat mesti melibatkan para ulama, tokoh agama dan tokoh informal tertentu guna memberikan keyakinan secara maksimal.

“Sosialisasi yang dilakukan harus melibatkan semua unsur, termasuk ulama dan tokoh agama guna memberikan pemahaman secara menyeluruh dan yang juga tidak kalah penting adalah adanya evaluasi terhadap sosialisasi yang telah dilakukan. Apakah sosialisasi sudah berjalan efektif dan jika tidak efektif maka perlu dilakukan pendekatan lain lagi agar pesan-pesan tersampaikan dengan baik ke masyarakat,” katanya di Banda Aceh, Minggu.

Pernyataan itu disampaikan menanggapi adanya keluarga yang mengambil paksa pasien yang meninggal dunia terkonfirmasi COVID-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUdD) Zainoel Abidin Banda Aceh.

Ia menilai sosialisasi yang dilakukan kerapkali secara sepihak, di mana petugas sosialisasi secara formal menerangkan informasi COVID-19 pada masyarakat dan dengan kondisi dan karakteristik masyarakat yang suka diam.

“Artinya, sosialiasi tidak terjadi dua arah, yakni antara sosialisator dengan masyarakat yang menjadi peserta dari sosialisasi COVID-19. Saya menilai para sosialisator tidak peduli, yang penting mereka sudah melaksanakan tugasnya,” katanya.

Menurut dia dalam sosialisasi perlu memandang penting konsep bagaimana agar memungkinkan masyarakat merasa ingin tahu dan untuk bertanya serta mencari informasi COVID-19 pada petugas dan pemda setempat.

“Sosialisasi yang dilakukan ke depan haruslah terjadi di antara dua pihak secara aktif,” katanya.

Ia menambahkan dalam mengantisipasi kasus pengambilan pasien meninggal dunia terkonfirmasi COVID-19, pemerintah dan instansi terkait juga harus memberikan informasi yang lengkap terutama kepada keluarga pasien terhadap kondisi dan ciri-ciri pasien positif COVID-19.

“Pemahaman secara menyeluruh yang disampaikan kepada masyarakat dan keluarga khususnya, akan memberikan sebuah pencerahan sehingga mereka dapat memahami dengan maksimal dengan proses dan tahapan yang dilakukan terhadap pasien meninggal terkonfirmasi COVID-19,” demikian Muhammad Saleh Sjafei.

Baca juga: Ulama Aceh: Saat pandemi, jadikan momen Idul Fitri saling memaafkan

Baca juga: Unsyiah bagikan dua ribuan hand sanitizer untuk masyarakat

Baca juga: Ulama: Bisa "qadha", ODP-PDP positif COVID-19 boleh tak puasa Ramadhan

Baca juga: Isra Miraj momen umat Islam lebih utamakan shalat di tengah COVID-19
Pewarta : M Ifdhal
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020