PDIP gelar tabur bunga peringati peristiwa 27 Juli

PDIP gelar tabur bunga peringati peristiwa 27 Juli

Dokumentasi - Sejumlah ibu-ibu yang merupakan keluarga korban "Kerusuhann Dua Puluh Tujuh Juli" atau Kudatuli saat membawa bunga untuk melakukan tabur bunga di depan Kantor DPP PDI, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Sabtu (27/7/2019). ANTARA/Syaiful Hakim/am.

Jakarta (ANTARA) - Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan gelar tabur bunga dan doa bersama untuk memperingati peristiwa serangan kantor DPP PDI Perjuangan pada 27 Juli 1996 atau biasa disebut peristiwa Kudatuli.

"Peringatan peristiwa 27 Juli di Kantor DPP PDI Perjuangan dilakukan dengan tabur bunga, doa, dan webinar," kata Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Senin.

Menurut dia, PDI Perjuangan dan segenap lapisan masyarakat, khususnya penggiat HAM dan demokrasi, hari ini memeringati peristiwa kelam serangan terhadap kantor DPP PDI saat itu.

"Pemerintah Orde Baru selalu memilih jalan kekuasaan terhadap rakyatnya sendiri. Serangan tersebut tidak hanya menyerang simbol kedaulatan partai politik yang sah, namun juga membunuh demokrasi. Kekuasaan dihadirkan dalam watak otoriter penuh tindakan anarki," kata Hasto.

Baca juga: PDIP Surabaya ingatkan kadernya bantu rakyat saat bencana
Baca juga: Respon Hasto soal Gibran akan melawan kotak kosong di Pilkada Solo
Baca juga: Hasto sebut tudingan politik dinasti untuk Gibran tak mendasar


Meski kantor PDI luluh lantak, kata dia, namun sejarah mencatat, energi perjuangan tidaklah surut.

"Apa yang dilakukan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri dengan memilih jalur hukum, di tengah kuatnya pengaruh kekuasaan yang mengendalikan seluruh aparat penegak hukum sangatlah menarik," ujarnya.

Tidak hanya langkah itu menunjukkan keyakinan politik yang sangat kuat, tetapi lebih jauh lagi, keyakinan terhadap kekuatan moral terbukti mampu menggalang kekuatan demokrasi arus bawah.

"Kekuatan moral itu mendapatkan momentumnya ketika seorang hakim di Riau yang bernama Tobing, mengabulkan gugatan Ibu Megawati. Disinilah hati nurani menggalahkan tirani," papar Hasto.

Kekuatan moral yang sama menghadirkan politik moral ketika dengan lantang Megawati Soekarnoputri meneriakkan "Stop Hujat Pak Harto".

Padahal, lanjut dia, rakyat tahu bagaimana praktek deSukarnoisasi tidak hanya menempatkan Bung Karno dalam sisi gelap sejarah, namun juga keluarga Bung Karno mendapatkan berbagai bentuk tekanan dan diskriminasi politik.

Ketika Hasto menanyakan sikap Ibu Mega terkait hal itu, keluarlah jawaban yang di luar perkiraannya. "Saya tidak ingin sejarah terulang, seorang Presiden begitu dipuja berkuasa, dan dihujat ketika tidak berkuasa. Rakyat telah mencatat apa yang dialami oleh keluarga Bung Karno. Karena itulah, mengapa Bung Karno selalu berada di hati dan pikiran rakyat. Kita tidak boleh dendam lalu hanya melihat masa lalu, dan melupakan masa depan," kata Hasto yang menirukan ucapan Megawati.

Oleh karena itu, tambah dia, Kudatuli mengajarkan inti dari kekuatan moral politik. Pilihan jalur hukum saat itu memperkuat moral pejuang demokrasi.

Kudatuli menjadi benih perjalanan reformasi di mana kekuatan rakyat menyatu dan mampu mengalahkan tirani.

"Di balik jatuhnya Pak Harto, Ibu Megawati telah mengajarkan politik rekonsiliasi, berdamai dengan masa lalu dan melihat masa depan. Di situ hadir kekuatan moral seorang pemimpin," ucap Hasto.
Pewarta : Syaiful Hakim
Editor: M Arief Iskandar
COPYRIGHT © ANTARA 2020