Epidemiolog: Belum ada laporan kluster transportasi publik COVID-19

Epidemiolog: Belum ada laporan kluster transportasi publik COVID-19

Sejumlah calon penumpang menunggu kedatangan Kereta Rel Listrik (KRL) di Stasiun Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/7/2020). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengatakan hingga saat ini belum ada laporan di dunia mengenai transportasi publik menjadi kluster penyebaran COVID-19.

"Saya baru baca di salah satu media massa luar negeri bahwa memang tadinya mereka khawatir kluster subway akan tinggi, namun ternyata tidak," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Hal itu tentunya tidak terlepas dari penerapan protokol kesehatan yang benar-benar ditetapkan di transportasi umum sehingga meskipun terdapat himpunan banyak orang, namun tidak menjadi kluster penyebaran virus.

Ia mengatakan pentingnya penerapan kesehatan hendaknya juga dipahami dan diterapkan dengan sesungguhnya di Tanah Air termasuk di Jakarta yang mulai hari ini kembali menerapkan kebijakan transportasi ganjil genap.

Baca juga: Pemkot Bogor usulkan bus bersubsidi dari Bogor ke Jakarta

Baca juga: Pemerintah bantu 150 bus urai antrean penumpang KRL di Stasiun Bogor


Penerapan kebijakan tersebut tentunya berkaitan dengan bertambahnya orang yang kembali beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum termasuk kereta.

"Yang paling penting itu adalah penerapan protokol kesehatan, jadi kalau seseorang tidak pakai masker maka jangan izinkan masuk kereta. Bahkan jika kedapatan, diturunkan saja," ujar Pandu.

Ia menyarankan upaya pencegahan penularan di atas kereta dapat dilakukan dengan berbagai cara di antaranya menambah jumlah gerbong, membuka sirkulasi udara di atas kereta serta memperpanjang jam pelayanan.

Kemudian, jarak pelayanan antara satu kereta dengan kereta lainnya hendaknya menjadi sangat pendek sehingga frekuensinya lebih banyak. Selain itu, pengguna transportasi harus tertib menggunakan masker dan tidak berbicara di sepanjang perjalanan.

"Masyarakat juga harus sadar agar tidak memilih jam-jam sibuk untuk menaiki kereta, bisa saja dengan baik lebih awal atau pulang kerja lebih lambat," kata dia.

Apalagi, pemerintah di Jakarta juga masih memberlakukan kebijakan 50 persen kantor sehingga hal ini dapat diingatkan kembali penerapannya, sebab angka penularan virus masih tinggi.*

Baca juga: Pemkot Bogor lakukan swab test di terminal Baranangsiang

Baca juga: Bima Arya: KRL belum aman untuk tambah kapasitas penumpang
Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020