Kemendikbud sebut terdapat 1.300 penelitian selama pandemi

Kemendikbud sebut terdapat 1.300 penelitian selama pandemi

Peserta didik baru tingkat Sekolah Dasar (SD) mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) secara daring di Blitar, Jawa Timur, Senin (13/7/2020). Memasuki masa hari pertama sekolah tahun ajaran baru 2020 ini, Kemendikbud RI masih hanya memberikan ijin pemberlakuan masuk sekolah secara tatap muka terhadap 104 kabupaten/kota di seluruh indonesia yang termasuk zona hijau dalam peta penyebaran COVID-19, sedangkan bagi kabupaten/kota lainnya yang masih termasuk dalam zona kuning dan merah, masih harus memberlakukan pembelajaran melalui sistem daring dari rumah. Antara Jatim/Irfan Anshori/zk.

Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Paristiyanti Nurwardani menyebut terdapat 1.300 penelitian dilakukan sejumlah perguruan tinggi selama pandemi COVID-19.

"Hingga saat ini, terdapat 1.300 penelitian mengenai COVID-19. Paling banyak penelitian yang berhubungan dengan tes usap, harmonisasi alat, maupun ventilator," ujar Paristiyanti di Jakarta, Senin.

Penelitian tersebut dilakukan sejumlah perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Kemendikbud mengumpulkan penelitian tersebut dan disusun dalam sebuah buku.

Baca juga: Menristek pastikan penelitian vaksin COVID-19 dilakukan simultan

"Besok, kami akan melakukan bedah buku penelitian terkait hasil inovasi yang berhubungan dengan penanganan COVID-19," jelas dia.

Paristiyanti menambahkan Ditjen Dikti menggelontorkan anggaran sebesar Rp405 miliar yang diperuntukkan untuk penanganan COVID-19, yang terdiri dari mahasiswa relawan COVID-19, peningkatan kualitas dan kapasitas rumah sakit pendidikan dan fakultas kedokteran, fasilitas alat pelindung diri, reagen dan alat deteksi COVID-19 dengan RT PCR, dan pengembangan dan modifikasi produk inovasi untuk pengendalian COVID-19.

"Anggaran itu terbagi menjadi Rp199 miliar untuk pengadaan di pusat dan Rp205 miliar untuk dana realokasi ke PTN," jelas dia.

Baca juga: Apa kabar penelitian obat herbal untuk COVID-19?

Untuk alokasi anggaran di pusat bertujuan untuk pengadaan APD, PCR dan reagen untuk PTN sebesar R145 miliar. Sedangkan sisanya, untuk pembayaran honor relawan mulai Desember dan Januari.

Kemendikbud melalui Ditjen Dikti juga memberikan sebanyak 22 alat PCR yang digunakan untuk tes usap di sejumlah rumah sakit pendidikan dan fakultas kedokteran, sehingga bisa memeriksa sebanyak 11.000 spesimen setiap harinya.

"Kami menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada para pemangku kepentingan dan juga para relawan yang telah bahu-membahu dalam penanganan COVID-19," imbuh dia.***3***

Baca juga: Komisi IX DPR dorong penelitian vaksin COVID-19
Baca juga: LIPI: Metode digital jadi alternatif terbaik dukung riset saat pandemi
Baca juga: Penelitian genotipe COVID-19 di Sumsel terkendala dana

 
Pewarta : Indriani
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020