PLN Enjiniring - Thorcon kerja sama studi kelayakan pembangkit thorium

PLN Enjiniring - Thorcon kerja sama studi kelayakan pembangkit thorium

Plt Direktur Utama PT PLN Enjiniring Hernadi Buhron (atas) dan Kepala Perwakilan Thorcon International Pte. Ltd, Bob S Effendi usai menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) daring mengenai kerja sama studi kelayakan persiapan pembangunan prototipe pembangkit listrik tenaga thorium (PLTT) di Indonesia. ANTARA/HO-Thorcon International.

Jakarta (ANTARA) - PT PLN Enjiniring dan ThorCon Internationalmmelakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU), Rabu, dalam rangka melakukan studi kelayakan termasuk grid study dan studi tapak, sebagai persiapan pembangunan prototipe pembangkit listrik tenaga thorium (PLTT) pertama di Indonesia.

Kepala Perwakilan Thorcon International Pte. Ltd, Bob S Effendi dalam keterangan persnya, mengatakan MoU yang dilakukan secara daring itu terkait rencana pengembangan PLTT yang ditargetkan beroperasi pada 2028 dan diharapkan memiliki keekonomian yang kompetitif dengan pembangkit batu bara.

Ia mengatakan Thorcon International menggandeng PT PLN Enjiniring karena anak usaha PT PLN (Persero) ini memiliki sumber daya dengan kompetensi yang tinggi dengan standar internasional dan berpengalaman di berbagai aspek mulai dari perencanaan sampai dengan konstruksi pada sektor ketenagalistrikan.

Baca juga: UNS - Thorcon kerja sama survei penerimaan masyarakat PLTT di Babel

Ke depan, ThorCon International Pte. Ltd. akan melakukan transfer know-how kepada PT PLN Enjiniring guna dapat memahami teknologi Thorium Molten Salt Reactor (TMSR) untuk melaksanakan Nota Kesepahaman ini.

"Saya rasa ini waktu yang tepat. Kita sudah tidak perlu ragu dan takut lagi dengan PLTN. Pertama, tidak ada regulasi yang melarang pembangunan PLTN. Kedua, PLTN merupakan teknologi yang sudah matang dan lebih dari 50 tahun. Sebanyak 450 unit PLTN telah beroperasi di 30 negara di dunia dan terus bertambah, bahkan faktanya berdasarkan kematian per terra watt hour, PLTN adalah yang terkecil artinya yang teraman," kata Bob Effendi.

Walaupun Indonesia adalah negara kaya ragam energi, tetapi masih mengandalkan energi fosil khususnya batu bara. Sementara sumber energi fosil di Indonesia sudah mulai habis. Selain itu, adanya komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi menciptakan kebutuhan untuk mencari pengganti sumber energi fosil, yang dapat beroperasi 24 jam dengan tidak terpengaruh cuaca, serta tidak menghasilkan emisi CO2 dan dapat menggantikan batubara yang saat ini merupakan energi andalan.

Baca juga: Thorcon - PLN lakukan studi persiapan implementasi pembangkit thorium

Thorium sebagai satu opsi green energy dapat menjadi salah satu sumber energi primer yang layak dipertimbangkan, mengingat sumber daya thorium sebagai mineral ikutan timah sangat berlimpah. Banyak pakar menduga cukup untuk 1.000 tahun ke depan, dan hingga saat ini belum dimanfaatkan sehingga berpotensi menjadi solusi bagi transisi energi menuju ekonomi Indonesia rendah karbon pada 2050.

Sementara Plt Direktur Utama PT PLN Enjiniring Hernadi Buhron menyatakan pihaknya merasa bangga dapat terlibat dalam pelaksanaan pengembangan PLTT dan berharap penandatanganan MoU menjadi dasar untuk melanjutkan kerja sama yang konkrit dalam waktu dekat.

Hernadi mengatakan posisi PLN Enjiniring dalam pekerjaan ini adalah mendukung penuh program pemerintah dalam meningkatkan bauran energi di mana target energi baru dan terbarukan mencapai 23 persen pada 2025. Hal ini sejalan dengan program transformasi PLN sebagai induk perusahaan, yaitu Green, Lean, Innovative dan Customer Focus.

"Harapan kami, dengan adanya penandatanganan MoU antara PLN Enjiniring dan Thorcon International ini juga akan membawa dampak yang positif dan bernilai tambah bagi kedua perusahaan serta dapat memberikan kemajuan berarti bagi Indonesia secara keseluruhan untuk mencapai kesejahteraan melalui swasembada energi, terutama green energy," katanya.
Pewarta : Faisal Yunianto
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020