KNKT paparkan hasil investigasi kecelakaan maut di Sempolan Jember

KNKT paparkan hasil investigasi kecelakaan maut di Sempolan Jember

Investigator senior KNKT Ahmad Wildan (kanan) memaparkan hasil investigasi kecelakaan beruntun di Desa Sempolan dalam forum rapat yang digelar di Dinas Perhubungan Jember, Jawa Timur, Selasa (18/8/2020). ANTARA/Zumrotun Solichah/am.

Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memaparkan hasil investigasi kecelakaan maut di Jalan Raya Jember-Banyuwangi di Desa Sempolan, dalam rapat yang digelar di Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa.

"Kami melakukan investigasi karena sering terjadi kecelakaan di Jalan Raya Jember-Banyuwangi, dan kecelakaan tersebut mengakibatkan banyak korban jiwa," kata Senior Investigator KNKT Ahmad Wildan, di Jember.

Ia mengatakan pihaknya mendapat informasi dari staf Dinas Perhubungan Jember terkait kecelakaan yang terjadi di Sempolan, dan info awal korban dalam kecelakaan itu sebanyak delapan orang. Namun korban dipastikan lima orang yang meninggal dunia, sehingga KNKT memutuskan turun untuk melakukan investigasi.

"Penyebab kecelakaan itu karena kesalahan prosedur mengemudi dari sopir truk fuso, sehingga menyebabkan rem blong saat jalan menurun," ujarrnya pula.

Dalam melakukan investigasi, lanjut dia, pihaknya melakukan wawancara dengan pengemudi truk fuso dan melihat kondisi sejumlah kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan beruntun di Desa Sempolan tersebut.

"Ada tiga kesalahan utama pengemudi dalam hasil investigasi yang dilakukan KNKT, yakni menggunakan gigi persneling tinggi di turunan, mengocok rem atau menginjak rem berulang, dan mencoba memindahkan gigi persneling ke gigi rendah," katanya pula.

Ia menjelaskan, menggunakan gigi persneling tinggi di turunan menyebabkan daya rem berkurang (brake fading) dan setelah terjadi brake fading, biasanya pengemudi akan menginjak rem berulang-ulang dan menyebabkan tekanan angin tekor hingga di bawah 8 bar, sehingga kondisi itu menyebabkan pedal rem dan pedal kopling tidak bisa digunakan.
Baca juga: Polda Jawa Timur gunakan TAA untuk olah TKP kecelakaan maut Jember

Dengan kondisi itu, lanjut dia, pengemudi mencoba memindahkan gigi persneling ke gigi rendah, dengan dua kemungkinan yakni jika tenaganya kuat maka persneling akan masuk ke gigi netral, namun jika tenaganya lemah maka persneling tetap di gigi tinggi, sehingga menyebabkan rem blong.

"Kami juga sudah melakukan wawancara dengan pengemudi yang menyampaikan bahwa kendaraan dari atas berjalan dengan kecepatan normal, dan berkali-kali menggunakan rem untuk mengurangi kecepatan," katanya lagi.

Pengemudi juga merasakan pedal rem keras tidak bisa diinjak, kemudian pengemudi memindahkan gigi persneling ke gigi rendah dan masuk gigi netral yang menyebabkan truk meluncur dengan cepat, sehingga pengemudi hanya bisa membunyikan klakson.

"Hasil pemeriksaan kendaraan truk fuso yakni kampas rem masih baik, air tank dalam kondisi kosong (tidak ada udara), terdapat klakson telolet, kandungan air dalam minyak rem tinggi di atas 4, dan terdapat kebocoran seal pada tromol dan minyak rem tumpah ke kampas," katanya pula.

Sebelumnya, kecelakaan beruntun terjadi di Jalan Raya Jember-Banyuwangi, tepatnya di Desa Sempolan, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember pada Kamis (13/8) petang yang menyebabkan lima orang tewas dan lima korban lainnya mengalami luka-luka.

Kecelakaan terjadi karena truk fuso bermuatan kedelai mengalami rem blong hingga menabrak satu truk colt diesel dan enam sepeda motor. Atas kejadian itu, polisi sudah menetapkan sopir truk fuso berinisial SY menjadi tersangka dalam kecelakaan beruntun itu.
Baca juga: Polisi tetapkan sopir truk fuso tersangka kecelakaan maut di Jember
Baca juga: Lima korban meninggal dalam kecelakaan maut di Jember

 
Pewarta : Zumrotun Solichah
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020