Warga Besipae sebut anak-anak alami trauma berat

Warga Besipae sebut anak-anak alami trauma berat

Warga Pubabu, Besipae, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Matheda Esterina Selan (kanan) saat memberikan keterangan kepada wartawan di Kupang, Rabu (19/9) usai memberikan laporan polisi terkait kasus perusakan rumah warga Besipae ke pihak Polda NTT. (ANTARA/Aloysius Lewokeda)

Kupang (ANTARA) - Warga Pubabu, Besipae, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Matheda Esterina Selan, mengatakan anak-anak di Besipae saat ini masih mengalami trauma mendalam akibat tindakan intimidatif dari aparat keamanan di daerah setempat.

"Sampai sekarang anak-anak kami menangis terus, mereka mengalami trauma yang berat karena tindakan aparat di Besipae," katanya ketika dihubungi, Jumat.

Ia mengatakan, trauma yang dialami anak-anak ini akibat tindakan intimidatif yang dilakukan aparat keamanan dengan menembakan gas air mata di sekitar warga Besipa yang saat itu pada Selasa (18/8). Peristiwa didokumentasikan dalam bentuk video yang beredar luas di media sosial.

Di antara para warga, lanjut dia, terdapat bayi yang berusia dua bulan, tiga bulan, dan tujuh bulan serta anak-anak usia PAUD dan SD.

Baca juga: Pemprov NTT segera perluas dialog tangani konflik lahan Besipae
Baca juga: Pemprov NTT: Tak ada anarkis di Pubabu
Baca juga: Kapolres TTS bantah tindakan represif di Pubabu
Baca juga: LPA: Korban penggusuran di Pubabu tinggal di bawah pohon


"Mereka kaget dan ketakutan hingga sekarang terus menangis. Tembakan gas air mata itu dilakukan tiga kali dan yang terakhir persis di samping tempat kami berkumpul bersama anak-anak," kata ibu dari tiga orang anak itu.

Esterina Selan meminta pemerintah provinsi agar menghentikan tindakan intimidatif ini karena menimbulkan ketakutan yang luar biasa bagi warga terutama anak-anak.

Sementara itu, Kepala Badan Pendapatan dan Aset Provinsi NTT, Zeth Sony Libing ketika menghubungi Antara di Kupang Rabu (19/8) melalui telelpon seluler mengatakan tidak ada tindakan anarkis yang dilakukan aparat keamanan terhadap warga Pubabu Besipae.

"Tidak ada anarkis. Tidak ada tindakan represif dan intimidasi serta penelantaran terhadap masyarakat di Pubabu. Apa yang dilakukan aparat keamanan hanya 'shock therapy' untuk membangunkan masyarakat agar bersedia menempati rumah yang sudah dibangun pemerintah," katanya.

Menurut dia, pemerintah sudah selesai membangun rumah untuk menggantikan rumah warga yang telah digusur.

Namun, karena warga bersikeras sehingga aparat sengaja menembak gas air mata ke tanah dengan tujuan agar warga bisa masuk ke rumah yang disediakan tersebut.
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor: M Arief Iskandar
COPYRIGHT © ANTARA 2020