Bank sampah olah limbah dapur organik jadi disinfektan alami di Padang

Bank sampah olah limbah dapur organik jadi disinfektan alami di Padang

Direktur Bank Sampah Panca Daya Mina Dewi menunjukan cairan disinfektan organik "Eco Enzyme" yang dibuatnya di Bank Sampah Pancadaya, Kuranji, Padang, Sumatera Barat, Jumat (21/8/2020). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/fpc.

Padang (ANTARA) - Pegiat Bank Sampah Pancadaya, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, mengolah sampah dapur organik menjadi carian disinfektan alami yang mampu membunuh bakteri dan jamur sehingga dapat digunakan sebagai pengganti cairan pembersih berbahan kimia.

"Selain pengolahan sampah plastik, kami juga berusaha mempelajari inovasi baru dan membuat olahan sampah organik berupa eco enzyme," kata Direktur Bank Sampah Pancadaya Mina Dewi, di Padang, Rabu.

Eco enzyme merupakan hasil dari fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah dan sayuran dicampurkan gula merah dan didiamkan dalam air sekitar tiga bulan.

Lebih lanjut Dewi mengatakan saat ini ia melihat masih banyak masyarakat yang membuang sampah organik begitu saja. Padahal, menurutnya sampah organik juga memiliki banyak manfaat jika diolah dengan baik.

Baca juga: DLH diminta serius selesaikan persoalan sampah Kota Padang

Baca juga: Asosiasi bank sampah Kota Padang hasilkan produk unggulan


"Salah satunya berupa eco enzyme ini. Pembuatannya yang praktis dan memiliki banyak manfaat untuk kita," kata dia.

Proses pembuatan eco enzyme sendiri sangat mudah yaitu untuk 10 liter air cukup menggunakan 1 kilogram gula merah dan 3 kilogram sampah sayuran. Namun, sampah sayuran yang digunakan harus sampah segar, bukan sampah yang sudah dimasak.

"Pengolahannya menggunakan wadah yang tertutup. Namun harus diberikan sedikit rongga untuk melepaskan gas yang dikeluarkan dari hasil fermentasi tersebut," kata dia.

Selain menggunakan sampah dapur, pembuatan eco enzyme juga bisa menggunakan daun lainnya yang ada di pekarangan rumah seperti daun kayu, daun bunga, dan lainnya.

"Hasil fermentasi ini akan mengeluarkan bau yang wangi. Kemudian bau yang muncul berdasarkan daun yang lebih dominan," kata dia.

Kemudian getah putih yang dikeluarkan pada saat fermentasi juga bermanfaat untuk membersihkan flek hitam pada wajah. Namun menunggu tiga bulan agar bisa dipakai menggunakan kapas.

Ia mengaku untuk pembuatan eco enzyme sendiri hanya belajar autodidaktik. Selain itu ia juga belajar melalui grup sosial media eko enzyme Indonesia di Facebook.

"Di sana kami ikut berbagi ilmu. Di dalam group tersebut juga terdapat para pakar eco enzyme," ujar dia.

Lebih lanjut ia mengatakan sampai saat ini solusi mengenai persoalan sampah masih belum ditemukan. Untuk itu sebagai penggiat bank sampah ia terus belajar lebih banyak lagi terhadap pengelolaan sampah agar bisa dikembangkan ke masyarakat nantinya.

"Kami akan berusaha untuk melakukan inovasi yang sesuai selera masyarakat. Pengolahan eco enzyme ini ke depannya akan terus dikembangkan," kata dia.

Sebelumnya ia telah melakukan banyak hal untuk menyadarkan masyarakat agar peduli dengan sampah. Di antaranya mengolah sampah plastik menjadi suvenir yang bernilai jual dan mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos.

Tidak hanya itu, ia juga membuat program menabung sampah menjadi emas yang merupakan hasil kerja sama dengan pegadaian.
Semenjak itu kepedulian masyarakat setempat terhadap sampah mulai meningkat. Hal itu terlihat pada jumlah nasabah yang terus meningkat.

"Alhamdulillah nasabah Bank Sampah Pancadaya saat ini terus meningkat, bahkan mencapai 600 orang dan diperkirakan akan mencapai 1.000 nasabah," kata dia.*

Baca juga: Masyarakat antusias tukar sampah dengan sembako

Baca juga: UBH Padang Bangun "Bank Sampah" Inspirasi Bantul
Pewarta : Laila Syafarud
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020