Seorang ibu hamil di Gorontalo Utara reaktif tes cepat meninggal

Seorang ibu hamil di Gorontalo Utara reaktif tes cepat meninggal

Wabup Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, menyambut lima orang mantan pasien positif COVID-19, yang dinyatakan sembuh setelah menjalani karantina di RSUD Zainal Umar Siddiki. (ANTARA/HO)

Gorontalo (ANTARA) - Seorang ibu hamil di Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, dinyatakan reaktif tes cepat (rapid test) COVID-19, hasil pemeriksaan Puskesmas Dambalo, Kecamatan Tomilito, akhirnya meninggal dunia.

"Yang bersangkutan alias SP (22) berasal dari Desa Bolango Raya, dengan usia kehamilan 31 minggu untuk kehamilan pertama," ucap kepala Puskesmas Dambalo, Rahmatia Manasa, di Gorontalo, Sabtu.

Pasien tidak diizinkan pihak keluarga untuk mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan manapun, sesuai pernyataan ibu kandungnya.

Namun pasien menunjukkan gejala khas COVID-19. "Hanya saja kami tidak melakukan tes usap (swab test)," ucapnya.

Gejala yang ditunjukkan yaitu sesak nafas, sementara virus mematikan itu, menyerang saluran pernafasan. Juga hilang sensasi pengecapan (rasa), badan menjadi lemas, bahkan pada beberapa kasus disertai serangan diare, tambahnya.

Baca juga: Kasus positif COVID-19 di Gorontalo Utara capai 52 jiwa

Baca juga: Balik ke kampus, tes cepat digratiskan bagi mahasiswa Gorontalo Utara


"Setiap ibu hamil yang datang memeriksakan kondisinya di puskesmas ini, pasti melewati tahapan tes cepat," ucapnya.

SP dengan usia kehamilan 31 minggu, belum saatnya melahirkan. "Penolakan perawatan di fasilitas kesehatan oleh ibu kandungnya, menyebabkan SP meninggal dunia di rumah," tambahnya.

Rahmatia berharap, masyarakat tidak didera rasa ketakutan yang terlalu tinggi untuk mendapatkan pelayanan kesehatan khususnya perawatan inap di fasilitas kesehatan baik puskesmas maupun rumah sakit.

"Jangan meremehkan virus corona yang masih mengancam kehidupan kita, serta jangan bersikap acuh tak acuh," ucapnya.

Untuk kasus SP katanya, memang belum melalui pemeriksaan tes usap (swab test), namun perlu ada langkah antisipatif sehingga diperlukan perawatan khusus di rumah sakit.

"Kami sudah berupaya penuh, hanya saja penolakan tersebut dilakukan pihak keluarga. Kondisi ini diharapkan tidak terjadi untuk kasus lainnya," tambahnya.

Baca juga: Cerita pasien sembuh positif COVID-19 di Gorontalo Utara

Baca juga: Gorut zona hijau pascalima positif COVID-19 dinyatakan sembuh
Pewarta : Susanti Sako
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020