Menanti 32 tahun mimpi terwujudnya akses jalan Terangun-Babahrot

Menanti 32 tahun mimpi terwujudnya akses jalan Terangun-Babahrot

Sejumlah mobil sedang melintas di jalan Terangun-Babahrot, Aceh Barat Daya, Minggu (13/9/2020) malam. ANTARA/M ifdhal/aa.

Banda Aceh (ANTARA) - Sebelum fajar menyingsing, Syahril warga Gampong  Blang Dalam, Kecamatan Susoh, Aceh Barat Daya  harus bergegas menuju tempat pelelangan ikan langganannya agar tak kemalaman di hutan belantara yang akan dilaluinya.

Di sana ia bergegas memasukkan beberapa jenis ikan segar dalam wadah terbuat dari bahan fiber yang sudah terpasang di sisi kiri dan kanan sepeda motornya. Dengan kuda besinya ia melaju cepat menuju Babahrot-Terangun (Gayo Lues) yang merupakan jalan penghubung kedua kabupaten tersebut.

Syahril merupakan satu dari sekian pedagang ikan keliling (muge) dari Kecaman Susoh yang saban hari menjual ikan segar ke masyarakat perbatasan di Kabupaten Gayo Lues termasuk ke ibu kota kabupaten itu Blangkejeren.

Akses menuju ke tempat ia mengais rezeki, bukanlah sebuah hal yang mudah layaknya sebuah jalan yang terhubung dengan kabupaten lainya.

Ia harus ekstra hati-hati melewati jalan bebatuan, becek dan terjal yang kapan saja bisa mengancam jiwa para pelintas di jalan. Jalur yang dilalui tersebut merupakan program Lautan Hindia-Gayo-Alas-Selat Malaka (Ladia Galaska) yang digagas Gubernur Aceh saat itu Abdullah Puteh. Ladia Galaska bertujuan  menghubungkan ekonomi antara kedua kawasan.

Di beberapa titik yang paling terjal yakni di Singgah Mata Babahrot, ia dan rekannya Marhaban bersama sejumlah warga pelintas dari kedua kabupaten harus lebih berhati-hati dan memahami teknik bekendara sepeda motor maupun roda empat agar tak terjebak tau bahkan mengalami kecelakaan maut di kawasan tersebut.

Syahril sendiri mengaku pernah mengalami kecelakaan saat melintas jalan Babahrot-Terangun yang menyebabkan tangan  dan bahunya patah.

“Kecelakaan maut tersebut juga mengakibatkan jari tangan saya tidak lurus lagi,” kata pria berusia 50 tahun tersebut sambil menunjukkan bekas luka di dada dan tangannya.

Banyak cerita duka yang ia ceritakan selama membelah hutan bersama motor ke sepuluh yang menemaninya menuju Gayo Lues dengan dagangan ikan segar yang dibawanya.

“Saat tanjakan terjal itu, kadang-kadang kami terjatuh dan ikan yang kami bawa berhamburan. Masih untung kecelakaan itu tak membuat korban jiwa selain hanya sepeda motor lecet dan fiber pecah dan kadang ikan sampai ke sana rusak karena kondisi jalam yang tak bersahabat,” katanya.

Motor yang dikendarai saat ini merupakan yang ke sepuluh, karena yang sebelumnya tak mampu lagi menemaninya menuju negeri seribu bukit untuk mengais rejeki buat keluarga besarnya tersebut.

Ayah dari empat orang anak ini, tetap berhati-hati dan memastikan motor yang diajak membelah hutan tiga sampai empat hari dalam seminggu kondisi laik jalan, karena medan yang ditempuh sangat menantang dan menguji adrenalin.

Berangkat pagi dinihari  agar tidak kemalaman di jalan karena tidak ada lampu yang menerangi jalan selain lampu pada sepeda motor yang dikendarainnya.

Pria yang tak lagi muda itu mengaku perjalanan memang tidak selalu sesuai prediksi, terutama saat musim hujan yang mengakibatkan ruas jalan yang dialui longsor sehingga menambah waktu tempuh sampai malam hari dari biasanya sekitar sore hari.

“Terkadang kami harus bermalam di jalan dengan peralatan seadanya dan jika tidak bisa lagi melintasi jalan ini, maka kami akan pulang melalui Takengon, Aceh Tengah. Ini akan menambah biaya lagi,” katanya dengan nada pilu.

Saat jalan pulang mereka juga membawa hasil pertanian dari daerah sana seperti cabai segar yang akan di pasarkan di Aceh Barat Daya.

Ikan segar dinikmati warga di daerah Tengah Aceh dan sayur segar dinikmati langsung masyarakat melalui jasa muge yang rela menantang maut demi memenuhi permintaan langganannya di kedua daerah.

Rela menjalankan kehidupan sehari-hari dengan rutinitas bertaruh nyawa dalam mencari nafkah, bagi Syahril tidak banyak tuntunan, selain keinginannya tuntasnya pembangunan jalan yang menguhubungkan  dua kabupaten itu, Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Barat Daya.

Rakyat juga punya kepentingan 

Bupati Aceh Barat Daya, Akmal Ibrahim menyatakan konflik politik pada umumnya berlatar kepentingan dan terkadang lupa bahwa rakyat juga punya kepentingan.

“Ruas jalan yang dibangun dengan biaya tahun jamak yang menghubungkan Aceh Barat Daya-Gayo Lues sampai Aceh Timur merupakan kepentingan rakyat. Dengan hadirnya infrastruktur akan membangkitkan ekonomi masyarakat yang tinggal di pedalaman,” kata Akmal Ibrahim.

Ia menjelaskan jalan yang dibangun saat ini seperti jalan “abu nawas” diperbaiki di satu titik dan titik lainnya rusak kembali sehingga penggunaanya tidak maksimal.

“Sayamendukung Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah yang merealisasikan janji untuk membangun ruas jalan Babahrot sampai Trangun yang nantinya akan memperlancar arus transportasi ke dua daerah ini,” kata Akmal.

Menurut dia pembangunan jalan tersebut bukanlah tiba-tiba seperti yang diributkan saat ini, tapi pembangunan tersebut sudah disiapkan jauh-jauh hari guna memudahkan akses kedua kabupaten.

“Orang menunaikan janji  dianggap salah dan menghalanginya dan ini tidak betul. Pemerintah Aceh Barat Daya dan masyarakat sangat mendukung pembangunan jalan ini karena ini sangat dibutuhkan oleh rakyat,” katanya.

Jika pembangunan ruas jalan tersebut masih diributkan DPRA dikarenakan mereka belum mengetahui keadaan di kawasan tersebut.

Kehadiran ruas jalan Babahrot-Trangon akan menumbuhkan ekonomi di kedua kabupaten tersebut di mana nantinya masyarakat Gayo Lues dapat menikmati ikan segar dari Aceh Barat Daya dan sayur segar dari Gayo Lues.

Kehadiran jalan ini juga akan mempermudah pemasaran hasil komoditas dan membangkitkan ekonomi. Kehadiran ruas jalan ini juga akan meningkatkan arus transportasi di kedua wilayah.

Pihaknya berharap pembangunan ruas jalan yang masuk paket tahun jamak tersebut dapat segera dituntaskan dan tidak ada hambatan karena ini merupakan kepentingan rakyat.

Komitmet Pemerintah Aceh

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengatakan Pemerintah Aceh akan membangun 14 ruas jalan dalam skema tahun jamak yang nantinya menghubungkan perekonomian serta meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar.

“Masyarakat di daerah ini yakni Babahrot-Gayo Lues telah menunggu sejak 32 lamanya untuk menikmati infrastruktur jalan yang representatif yang telah dicanangkan oleh para gubernur terdahulu,” katanya.

Pembangunan jalan tersebut juga bagian meningkatkan silaturrahmi di mana nantinya akan mempermudah akses masyarakat yang ada di setiap kabupaten untuk saling berinteraksi dalam berbagai sektor.

“Saya sangat berharap dukungan dari pemerintah daerah, Forkopimda, tokoh masyarakat  untuk kesuksesan pembangunan ruas jalan ini,” katanya.

Ia berkomitmen untuk tetap mewujudkan pembangunan ruas jalan  yang ditargetkan akan tuntas pada tahun 2022.

Kepala Dinas PUPR Provinsi Aceh, Fajri mengatakan Pemerintah Aceh akan membangun ruas jalan batas Gayo Lues-Babahrot sepanjang 28 km dengan anggaran sebesar Rp125 miliar.

Kemudian ruas jalan Blang Kejeren-Togra sampai batas Aceh Barat Daya sepanjang  91,3 km dengan anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp396 miliar.

Semoga jalan tersebut segera terwujud dan mimpi 32 tahun silam itu tertunaikan.

Pewarta : M Ifdhal
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020