Pemerintah kembangkan "co-firing" biomassa sebagai pengganti batubara

Pemerintah kembangkan

Petugas memantau peralatan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) di Desa Saliguma, Pulau Siberut Tengah, Kepulauan Mentawai, Selasa (17/9/2019). ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi/ama.

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah mengupayakan terobosan dalam pemanfaatan co-firing biomassa untuk mengurangi penggunaan energi fosil yakni batubara yang masih dominan.

Salah satu yang didorong adalah pemanfaatan co-firing biomassa sebagai substitusi batubara pada pembangkit listrik.

"Kami mendorong co-firing biomassa pada pembangkit listrik tenaga batubara dengan harapan bisa memenuhi target tambahan bauran energi sebesar 1-3 persen pada tahun 2025 serta berkomitmen melanjutkan penggunaan B30 dan akan terus mengembangkan biodiesel pencampur yang lebih tinggi dalam waktu dekat yakni uji coba B40," ungkap Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Andriah Feby Misna dalam informasi tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Ini jurus Kementerian ESDM percepat pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi

Dalam skema co-firing ini, lanjut Feby, pengembangan biomassa yang akan dioptimalkan potensi pemanfaatannya adalah pelet biomassa yang bersumber dari segala jenis sampah organik dengan harapan akan meningkatkan kemandirian energi nasional serta mengoptimalkan potensi pembangkit listrik tenaga biomassa yang sampai saat ini baru mencapai kurang dari 1,9 GW dari total potensi sekitar 32 GW.

"Sekitar 114 PLTU sudah melakukan co-firing test dengan menggunakan biomassa pellet serta RDF hingga 10 persen, bergantung pada teknologi boiler. Kami berharap pada tahun 2021 kami dapat mulai menerapkan co-firing di PLTU batubara secara berkelanjutan," ujar Feby.

Dalam komitmen dan kajian uji penerapan B30 serta pengembangan B40, Feby menjelaskan, campuran biodiesel adalah cara yang efisien untuk mengembangkan solusi yang lebih ramah lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan energi yang sudah diimplementasikan sejak 2016.

Pada 2019, realisasi konsumsi biodiesel sebesar 6,4 juta kiloliter. Konsumsi biodiesel di 2020 diproyeksikan akan turun sebesar 13 persen dari alokasi tahun 2020 (9,6 juta kiloliter) akibat pandemi COVID-19.

"Meskipun terpukul pandemi global, pemerintah Indonesia tetap berkomitmen untuk melanjutkan program wajib B30," tegasnya.

Lebih lanjut, pemerintah juga tengah melakukan penyiapan uji coba B40. PT Pertamina bersama Institut Teknologi Bandung dan pemangku kepentingan terkait lain pun mendukung dengan mengembangkan katalisator untuk menghasilkan green-fuel berbasis minyak sawit yang diharapkan siap berproduksi pada 2023.

Baca juga: Kementerian ESDM: Bauran energi baru terbarukan capai 11,51 persen
Baca juga: Potensi biomassa pengganti batu bara capai 20.925 ton

Pewarta : Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020