Kejari Aceh Tengah sita tanah tersangka korupsi honor guru mengaji

Kejari Aceh Tengah sita tanah tersangka korupsi honor guru mengaji

Kejari Aceh Tengah. Antara Aceh/Kurnia Muhadi

Banda Aceh (ANTARA) - Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Tengah menyita dua bidang tanah dan satu unit rumah milik tersangka kasus korupsi honorarium guru mengaji dengan nilai kerugian negara mencapai Rp398,5 juta.

Kepala Kejari Aceh Tengah Nislianuddin melalui Kepala Seksi Pidana Khusus Zainul Arifin di Banda Aceh, Senin, mengatakan rumah dan tanah tersebut disita sebagai pengganti kerugian negara.

Baca juga: Kejati Aceh periksa 12 saksi kasus korupsi pembangunan jalan

"Rumah dan tanah yang disita tersebut milik tersangka AY. Tersangka AY sejak 18 September 2020 ditahan dan dititipkan di Rutan Takengon," kata Zainul Arifin.

Ia menyebutkan dua bidang tanah yang disita dengan luas masing-masing 8x20 meter serta 2.500 meter persegi. Sedangkan rumah dengan luas 8x12 meter.

Zainul menjelaskan AY merupakan bendahara Dinas Syariat Islam Kabupaten Aceh Tengah. AY diduga melakukan tindak pidana korupsi honorarium guru mengaji tahun anggaran 2019.

Baca juga: KPK gelar koordinasi dan supervisi penanganan perkara korupsi di Aceh

Modus yang dilakukan AY dengan jalan tidak menyalurkan honorarium untuk 1.259 guru mengaji, 14 supervisor, serta enam pengurus LPP TKA periode Juli hingga Desember 2019. Padahal, Dinas Syariat Islam Aceh Tengah sudah mencairkannya ke kas daerah.

"Setiap guru mengaji menerima honorarium Rp50 ribu per bulan dan supervisor Rp100 ribu per bulan. Sedangkan untuk enam pengurus LPP TKA mendapat honorarium keseluruhannya mencapai Rp12,4 juta," kata Zainul.

Ia mengatakan penyidik sedang menyelesaikan pemberkasan perkara untuk selanjutnya dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Banda Aceh.

Baca juga: Kejati Aceh tunggu audit kerugian negara kasus korupsi keramba

"Kasus ini mulai ditangani awal Januari 2020. Pemberkasan perkara sedikit lagi rampung dan direncanakan tuntas awal bulan depan, sehingga bisa dilimpahkan ke pengadilan di Banda Aceh," kata Zainul Arifin.
Pewarta : M.Haris Setiady Agus
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020