Pebisnis tenun jeli cari strategi hadapi pandemi

Pebisnis tenun jeli cari strategi hadapi pandemi

Perajin kain tenun ikat menanti pembeli di Pasar Alok, Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (31/7). Perajin tenun ikat dari Kabupaten Sikka dan daerahnya lainnya berkumpul di pasar itu setiap Selasa untuk menjual kain tenun ikat hasil buatan mereka. Tenun ikat buatan penduduk setempat dijual mulai Rp50 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung dari motifnya. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/kye/18. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Jakarta (ANTARA) - Pengusaha produk berbahan tenun mencari strategi untuk menghadapi pandemi COVID-19 dengan menjual barang-barang yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Brand Noesa yang memproduksi barang-barang seperti tali kamera, tali tas, tali kacamata, hingga dompet dari pengrajin tenun di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur kini membuat masker kain yang dibutuhkan untuk beraktivitas sehari-hari.

"Produk-produk kecil (seperti masker) itu muncul di era pandemi. Kami memikirkan apa produk baru lainnya yang bisa diolah," kata Annisa Hendrato, Creative dan Digital Marketing Noesa, di konferensi pers pembukaan "Peningkatan Kompetensi Pelaku Ekonomi Kreatif dalam Pemasaran Digital", Senin.

Selain masker yang dibuat dari sisa-sisa kain tenun, belakangan dia juga membuat tas kain untuk belanja menyusul kebijakan di mana penggunaan kantong plastik di toko-toko dikurangi.

Baca juga: Koleksi New Normal Essentials berhias tenun dan lurik dari IKAT

Baca juga: Makna tenun kaif NTT yang dipakai Jokowi saat upacara HUT RI


Merengkuh pasar yang lebih luas melalui digitalisasi adalah salah satu cara bertahan di tengah pandemi COVID-19. Berkaca dari pengalamannya, Annisa menuturkan caranya memperkenalkan tenun ikat untuk generasi muda.

"Tenun ikat biasanya cuma bisa dinikmati kolektor dan pegiat kain, kurang masuk ke anak muda yang uangnya terbatas. Saya ingin anak muda tahu tradisi tenun ikat," tutur dia.

Salah satu kekuatan utama dari berjualan secara langsung di toko fisik atau pameran adalah memberi kesempatan kepada konsumen untuk memegang langsung produk.

Tapi dunia digital juga memberi keleluasaan bagi pengusaha untuk berkreasi.

Bukan cuma lewat foto-foto produk yang menarik, dia juga menggali cerita di balik kain dan mempersembahkannya dalam bentuk video juga berbagi proses pembuatan agar bisa ditonton para konsumen.

Dia menyarankan untuk memulai proses digitalisasi dari platform yang familier agar proses adaptasi lebih mudah.

"Mulai dari hal kecil, misalnya jualan lewat Whatsapp, kirim foto barang dengan harga dan dimensi (ukuran) kalau bukan jualan makanan," dia memberi kiat.

Jika ingin mencoba menjangkau konsumen lewat media sosial, Annisa menyarankan untuk memulai dengan membuat katalog di Instagram.

Dibandingkan beberapa tahun lalu, saat ini pengusaha bisa lebih terbantu dengan majunya teknologi karena semua bisa dilakukan lewat handphone.

Baca juga: Wignyo Rahadi ramu tenun Sultra jadi busana muslim elegan di MUFFEST

Baca juga: Fashion Show Kemilau Toraja di jembatan kaca patung Yesus

Baca juga: Dekranasda Kota Kediri gelar "Dhoho Street Fashion 2019" Desember
Pewarta : Nanien Yuniar
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2020