Jonan sebut kampanye BBM ramah lingkungan tugas KLHK dan Kemenkes

Jonan sebut kampanye BBM ramah lingkungan tugas KLHK dan Kemenkes

Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan saat berkunjung untuk memberikan ucapan selamat Natal kepada Uskup KAJ Ignatius Kardinal Suharyo di Gereja Katedral, Jakarta, Rabu (25/12/2019). (ANTARANEWS/AstridFaidlatulHabibah)

Jakarta (ANTARA) - Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyebutkan bahwa kampanye dan edukasi penggunaan BBM ramah lingkungan kepada masyarakat seharusnya dilakukan oleh dua kementerian, yakni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Kesehatan.

"Yang harus kampanye adalah Menteri Kesehatan dan Menteri Lingkungan Hidup atau dua kementerian ini yang harus kampanye bagaimana menggunakan bahan bakar lebih 'eco friendly', bukan Menteri ESDM," kata Jonan dalam webinar yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa.

Mantan Menteri ESDM yang menjabat selama tiga tahun tersebut menegaskan bahwa dalam konsep keamanan energi (energy security), aspek keamanan lingkungan hidup juga sangat dipertimbangkan oleh dunia saat ini.

Baca juga: Risiko mesin mengelitik intai pengguna BBM RON rendah

Menurut dia, sumber energi yang sangat bertentangan dengan lingkungan hidup, seperti BBM fosil, tidak akan bertahan lama digunakan karena dampak lingkungan dan kesehatan yang jauh lebih besar.

Namun demikian, BBM jenis premium dan Pertalite hingga kini masih bertahan digunakan oleh masyarakat Indonesia, padahal kadar polusi yang ditimbulkan sangat tinggi.

Indonesia termasuk tujuh negara di dunia yang masing menggunakan bahan bakar di bawah RON 90, yakni Kolombia, Mesir, Ukraina, Mongolia, Uzbekistan, dan Bangladesh. Indonesia pun masih menggunakan BBM jenis premium dengan RON 88.

Baca juga: Indonesia perlu segera terapkan BBM ramah lingkungan

Oleh karena itu, Jonan mendorong peningkatan penggunaan energi terbarukan, seperti biodiesel lewat program B30 yang sudah dijalankan Pemerintah saat ini.

Selain itu, ia menilai bahwa penggunaan bahan bakar ramah lingkungan, seperti ethanol dan biofuel masih akan terus digunakan setidaknya hingga 50 tahun ke depan, daripada BBM fosil dan energi listrik.

"Kendaraan listrik tidak akan menjadi dominasi menurut saya, sampai dengan 50 tahun lagi. Pasti kendaraan-kendaraan yang menggunakan bahan bakar likuid yang masih jalan, makanya itu dibutuhkan biodiesel," kata Jonan.
 
Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020