Mata merah, cegukan hingga gangguan otak bisa jadi gejala COVID-19

Mata merah, cegukan hingga gangguan otak bisa jadi gejala COVID-19

Dokter Paru Rumah Sakit Persahabatan dr. Andika Chandra Putra saat berbicara dalam sebuah acara PDPI di Jakarta. ANTARA/Katriana/am.

Jakarta (ANTARA) - Dokter paru Rumah Sakit (RS) Persahabatan dr. Andika Chandra Putra, Sp.P, PhD, mengatakan bahwa mata merah, cegukan, mencret, ruam kulit hingga gejala seperti stroke akibat gangguan pada otak bisa menjadi gejala yang disebabkan oleh COVID-19.

"Memang waktu awal-awal (munculnya kasus COVID-19) kita fokus pada keluhan respirasi. Tapi kemudian setelah hampir 6 bulan ini ada pasien-pasien yang mengeluhkan keluhan-keluhan nonrespirasi," kata dr. Andika kepada ANTARA, di Jakarta, Senin.

Baca juga: "Malaise" salah satu gejala COVID-19, sebut dosen RSA UGM

Ia mengatakan gejala-gejala tersebut baru dilaporkan bukan karena gejalanya baru muncul setelah hampir 7 bulan kasus itu ada di Indonesia, tetapi karena pada awal kasus COVID-19 ditemukan, dunia medis lebih terfokus pada gejala-gejala yang berkaitan dengan saluran pernapasan.

"Artinya gejala COVID-19 seperti ini sudah ada, cuma kita enggak aware bahwa ini adalah salah satu keluhan atau gejala dari COVID-19. Tapi setelah kita pelajari, setelah banyak laporan, rupanya diketahui bahwa keluhan COVID-19 ini juga ada keluhan di saluran cerna, juga ada keluhan di kulit, keluhan di mata misalnya. Bahkan sekarang juga ada keluhan di otak. Jadi (berdasarkan) banyak laporan," kata dia.

Baca juga: Dokter paru: Pasien COVID-19 rentan terkena happy hypoxia

Setelah berjalannya waktu, reseptor COVID-19 tersebut terdapat juga di beberapa tempat, tidak hanya terdapat pada saluran respirasi. Walaupun saluran pernapasan masih menjadi saluran yang memiliki paling banyak reseptor COVID-19.

Reseptor COVID-19 tersebut ternyata ditemukan juga pada saluran pencernaan sehingga menyebabkan mual-mual, mencret hingga cegukan, pada kulit yang dapat menyebabkan ruam kulit, pada mata sehingga menyebabkan mata merah atau konjungtivitas, bahkan pada otak sehingga menyebabkan gejala seperti stroke dan penurunan kesadaran penderita.

Namun demikian, dari sekian banyak gejala nonrespirasi tersebut, keluhan nonrespirasi yang paling banyak ditemukan pada pasien COVID-19 adalah keluhan pada saluran cerna yang menyebabkan mual, muntah hingga mencret-mencret.

"Jadi mencret dan sakit perut itu yang paling banyak (dikeluhkan). Yang cegukan ada, tapi enggak begitu banyak. Ruam kulit juga ada, walaupun persentasenya enggak terlampau banyak. Apalagi saya. Saya enggak banyak merawat pasien-pasien yang keluhan ringan seperti tadi. Tapi ada beberapa yang mengeluhkan seperti cegukan, ruam kulit," demikian kata dr. Andika.

#satgascovid19 #ingatpesanibu

Baca juga: Gugus Tugas sebut 94 persen pasien COVID-19 di Aceh tanpa gejala
Pewarta : Katriana
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020