Dinkes DKI masih tunggu finalisasi data klaster PTIQ

Dinkes DKI masih tunggu finalisasi data klaster PTIQ

Petugas Unit Pengelola Angkutan Sekolah (UPAS) Dinas Perhubungan DKI Jakarta mengevakuasi pasien COVID-19 menggunakan bus jemputan sekolah dari sejumlah Puskesmas di Jakarta, Senin (28/9/2020). ANTARA/HO-UPAS Dishub DKI Jakarta/am.

Jakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan DKI Jakarta masih menunggu proses finalisasi data untuk klaster penyebaran pandemi COVID-19 yang menyebabkan sekitar 200 mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) di Cilandak, Jakara Selatan, terpapar.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti mengatakan data ratusan mahasiswa tersebut masih diproses termasuk untuk melakukan penelusuran (tracing).

"Data finalnya masih dalam proses, tapi sudah ada koordinasi yang baik antara tim Dinkes dengan pihak sekolah dan Kementerian Kesehatan," tutur Widyastuti di Jakarta, Senin.

Sambil difinalisasi, Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga masih melakukan penelusuran terhadap orang-orang yang pernah kontak langsung dengan ratusan mahasiswa tersebut.

"Saat ini memang belum ada hasilnya. Kami terus lakukan pendampingan dan terus dilakukan tracing," kata Widyastuti.

Para mahasiswa tersebut akhirnya dievakuasi ke fasilitas isolasi di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat. "Kemudian ini juga dibantu oleh flat isolasi mandiri," katanya.

Baca juga: 200 mahasiswa PTIQ positif COVID-19 dari penelusuran
Baca juga: Wagub: Tingkat kesembuhan COVID-19 di Jakarta capai 82 persen


Sekitar 200 mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu Al Qur'an (PTIQ) di Cilandak, Jakarta Selatan, dinyatakan positif terpapar COVID-19 dari hasil penelusuran (tracing).

"Iya benar segitu. (Awal kejadiannya dan sejak kapan) lebih detil Dinas Kesehatan yang tahu, tapi itu merupakan hasil tracing melalui tes usap (swab)," kata Camat Cilandak Mundari saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin.

Mundari menyebut saat ini para mahasiswa tersebut sudah dibawa ke Wisma Atlet dan Tower Pademangan untuk melaksanakan isolasi.

Mereka dibawa dengan menggunakan bus dengan kapasitas maksimal yang diperbolehkan 15 orang satu bus. "Ada sekitar tiga sampai lima bus untuk melakukan evakuasi," ujarnya.

Awalnya dari informasi yang beredar disebutkan bahwa ada satu kamar yang terpapar dan kini kampus tersebut telah ditutup sementara.

Sebelumnya, dikabarkan bahwa kampus di bawah koordinasi kementerian itu masih melakukan pembelajaran tatap muka meski di ibu kota tengah melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Pewarta : Ricky Prayoga
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2020