Wapres: Guru harus kompeten wujudkan SDM unggul

Wapres: Guru harus kompeten wujudkan SDM unggul

Wakil Presiden Ma'ruf Amin membuka "focussed group discussion" (FGD) Penguatan Peran Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) secara virtual dari rumah dinas wapres di Jakarta, Selasa (6/10/2020). (ANTARA/HO-Asdep Komunikasi dan Informasi Publik (KIP) Setwapres)

Jakarta (ANTARA) - Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan tenaga pengajar harus memiliki kompetensi yang memadai untuk dapat menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul, karena guru merupakan tulang punggung kegiatan pendidikan di Indonesia.

"Guru, sebagai tenaga pendidik yang profesional, merupakan tulang punggung kegiatan pendidikan di Indonesia. Karena itu, upaya untuk menghasilkan SDM unggul juga menjadi tanggung jawab tenaga pendidik. Tenaga pendidikan harus memiliki kompetensi yang tinggi untuk mengemban tugas tersebut," kata Ma'ruf Amin saat membuka focussed group discussion (FGD) Penguatan Peran Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) secara virtual, Selasa.

Pemerintah menempatkan pembangunan SDM unggul sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional, kata Ma'ruf. Kriteria SDM unggul menurut Ma'ruf ialah sumber daya yang sehat, cerdas, berproduktivitas tinggi, kompetitif, cinta Tanah Air dan berakhlak mulia.

Baca juga: Ma'ruf Amin: Kualitas pendidikan di Indonesia belum seragam

Baca juga: Jubir Wapres: MUI akan dilibatkan dalam pemeriksaan vaksin di China


Untuk mendapatkan SDM unggul sesuai kriteria tersebut, maka para guru diharapkan dapat merumuskan metode pembelajaran dan menyusun kurikulum yang tepat guna.

Ma'ruf Amin juga menjelaskan konsep Taksonomi Bloom, yang digagas oleh psikolog asal Amerika Serikat Benjamin Samuel Bloom, sebagai rancangan tepat untuk dikembangkan dalam dunia pendidikan di Indonesia.

"Bloom memandang bahwa pendidikan harus mampu mendorong kemampuan dalam memahami prinsip, menganalisa dan mengevaluasi konsep, serta memahami proses dan prosedur; daripada hanya sekadar menghafal fakta," tukasnya.

Selain itu, pengembangan kompetensi juga harus dilakukan secara seimbang antara hard skill dan soft skill pada anak didik.

"Saya yakin jika para pendidik kita memiliki semua kompetensi tersebut, maka kita dapat menghasilkan peserta didik yang kritis, humanis, mampu menghadapi perubahan sosial, kreatif, serta mampu melakukan inovasi," ujarnya.

Pewarta : Fransiska Ninditya
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2020