Di depan perwakilan PBB, anak Sumba Timur-NTT bicara dampak COVID-19

Di depan perwakilan PBB, anak Sumba Timur-NTT bicara dampak COVID-19

Roslinda (15) asal Kabupaten Sumba Timur, Nusa Provinsi Tenggara Timur mewakili anak Indonesia berbicara di hadapan perwakilan negara PBB tentang dampak pandemi COVID-19 bagi anak-anak, Rabu (8/10/2020). (FOTO ANTARA/HO- istimewa)

Kupang (ANTARA) - Anak asal Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur Roslinda (15) mewakili anak Indonesia berbicara di hadapan perwakilan negara Persatuan Bangsa Bangsa (PBB)  tentang dampak pandemi COVID-19 bagi anak-anak di Indonesia

Roslinda menyampaikan suara anak Indonesia secara virtual ke perwakilan negara anggota PBB di New York, Amerika Serikat seperti dalam keterangan tertulis Wahana Visi Indonesia (WVI) yang diterima ANTARA, di Kupang, Rabu (14/10/2020).

World Vision Asia mengundang perwakilan negara anggota PBB di New York pada Rabu (8/10) 2020 untuk menanggapi hasil penilaian cepat dampak sosial ekonomi COVID-19 pada kehidupan anak-anak yang rentan di Asia Pasifik.

Pada kesempatan itu Roslinda menyampaikan aspirasinya mewakili anak-anak Indonesia yang tinggal di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T) selama pandemi COVID-19.

Roslinda di hadapan para anggota perwakilan PBB menyampaikan kesedihannya selama pandemi COVID-19 berlangsung karena lebih banyak berada di rumah.

"Kami sedih karena selama pandemi lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja dan tidak bisa bertemu teman-teman," katanya.

Ia mengaku setelah belajar di rumah, kalau menemui hal sulit tidak bisa langsung bertanya pada guru seperti terjadi di sekolah.

Dikemukakannya bahwa bagi anak-anak yang pendidikan orang tuanya minim maka akan semakin sulit mengikuti proses pembelajaran dengan baik.

Roslinda menyampaikan anak-anak membutuhkan jaringan internet yang stabil dan juga telepon seluler.

Namun, kata dia, tidak semua anak dapat menikmati hal tersebut karena penghasilan orang tua mereka berkurang selama pandemi.

Ia juga mengatakan selama pandemi COVID-19 berlangsung harus rajin mencuci tangan, tetapi tidak semua daerah di Indonesia, khususnya di NTT memiliki akses air bersih.

"Saya beruntung, walaupun harus membeli air atau berjalan jauh untuk mendapat air, orang tua kami bisa mengusahakan agar rumah memiliki tempat cuci tangan. Saya berharap, para pemangku kebijakan dapat memberi solusi atas apa yang dihadapi anak-anak di masa pandemi ini,” katanya.

Selain Roslinda juga tampil Krish (14) dari India yang mendapat kesempatan sama untuk menyampaikan suara anak selama pandemi COVID-19. 

Baca juga: Kak Seto imbau anak Indonesia gerakkan badan cegah COVID-19

Baca juga: Presiden: Ibu-anak warga Indonesia positif COVID-19

Baca juga: Untuk karantina pekerja migran, Sumba Timur siapkan puskesmas-hotel

Baca juga: Pentingnya fokus pada gizi anak Indonesia di masa pandemi corona


 
Pewarta : Benediktus Sridin Sulu Jahang
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020