Menristek dorong sinergi dan kolaborasi riset Indonesia dengan Eropa

Menristek dorong sinergi dan kolaborasi riset Indonesia dengan Eropa

Menristek Bambang Brodjonegoro pada peresmian Science Tehno Park Unand secara daring di Padang. (ANTARA/Ikhwan Wahyudi)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/ Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mendorong penguatan sinergi dan kolaborasi riset Indonesia dengan Eropa.

"Sinergi dan kolaborasi riset merupakan kunci dalam kegiatan penelitian dan pengembangan. Oleh karena itu, kami mengapresiasi pelaksanaan European Research Day Indonesia (ERD) 2020, dimana membuka peluang baru bagi Indonesia untuk berkolaborasi dengan peneliti-peneliti dari sejumlah negara Uni Eropa," kata Menristek Bambang dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA, Jakarta, Selasa.

Hal itu disampaikan Menristek Bambang pada saat pembukaan EURAXESS ASEAN European Research Day Indonesia (ERD) 2020 yang dilaksanakan dalam jaringan.

Baca juga: Menristek: Eijkman kembangkan alat ukur kadar antibodi COVID-19

Menristek Bambang mengatakan sinergi dan kolaborasi diperlukan untuk menciptakan berbagai hasil riset dan inovasi yang menjawab berbagai permasalahan bangsa dan membawa kemajuan bagi Indonesia.

Saat ini Indonesia sedang melirik proses pengembangan dan potensi kerja sama vaksin dari negara Uni Eropa.

"Sampai saat ini memang belum ada yang langsung kerja sama, tapi salah satu potensi vaksin mungkin juga berasal dari salah satu negara Uni Eropa, kami akan menghubungi Diaspora Indonesia di negara Uni Eropa," ujar Menristek Bambang.

Baca juga: Ada transfer teknologi vaksin dalam kerja sama dengan luar

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Piket mengatakan inisiatif kerja sama global membutuhkan banyak mitra guna menawarkan solusi terhadap tantangan global tanpa mengenal batas negara.

Seperti saat pandemi COVID-19 ini, Uni Eropa telah menginvestasikan 458,9 juta euro dari program Horizon 2020 untuk penelitian dan inovasi yang secara khusus menangani pandemi tersebut.

Vincent Piket menuturkan ke depannya penelitian yang dilakukan tak hanya terbatas pada sumber daya alam saja. Namun, akan ada banyak sektor selain sumber daya alam yang bisa diteliti lebih lanjut dengan tetap mempertimbangkan keberlanjutan dan nilai-nilai tertentu.

Uni Eropa berkomitmen untuk mengatasi tantangan terbesar saat ini yaitu perubahan iklim. Beberapa minggu yang lalu, Komisi Eropa meluncurkan peluang untuk mengajukan proposal melalui Kesepakatan Hijau Uni Eropa atau European Green Deal Call. Peluang pendanaan melalui program Horizon 2020 itu menyediakan satu miliar euro untuk menanggapi krisis iklim. Peluang pendanaan terbuka untuk kerjasama internasional dalam konteks Perjanjian Paris dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Baca juga: Konsorsium Kemristek hasilkan lebih 61 produk inovasi tangani COVID-19
Baca juga: Menristek: Vaksin COVID-19 harus memiliki tingkat kemanjuran tinggi
Baca juga: Menristek: Kemungkinan perlu vaksinasi ulang COVID-19
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020