Bapeten diminta instensifkan pemantauan radiasi di lingkungan

Bapeten diminta instensifkan pemantauan radiasi di lingkungan

Dokumentasi - Personel BATAN, Bapeten dan Detasemen Kimia Biologi dan Radioaktif Gegana melakukan pengerukan tanah yang terkontaminasi zat radioaktif Cesium 137 sedalam 40 cm dalam upaya pembersihan (clean up) paparan radiasi di Perumahan Batan Indah, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Senin (2/2/2020). ANTARA/HO-Humas BATAN/am.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro menginginkan agar Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) mengintensifkan pemantauan radiasi di lingkungan.

"Kami juga sudah meminta kepada Bapeten kalau perlu menambah peralatan untuk melakukan monitoring karena ternyata dengan keberadaan peralatan tersebut itulah kita bisa mendeteksi adanya kandungan radioaktif pada waktu itu di Perumahan Batan Indah," katanya dalam sambutan dalam acara virtual Deklarasi Pernyataan Status Clearance Perumahan Batan Indah, Jakarta, Kamis.

Menristek mengatakan memang dengan keterbatasan alat yang dimiliki, mungkin tidak bisa mendeteksi di seluruh wilayah di Indonesia termasuk di wilayah Jabodetabek.

Namun ke depan diharapkan dapat dilakukan peningkatan pemantauan radiasi di berbagai wilayah di Indonesia, jika perlu Bapeten dapat menambah peralatan untuk mendukung kegiatan pemantauan tersebut.

Paparan radiasi yang melewati nilai batas normal akan berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan masyarakat sehingga perlu pemantauan untuk menemukan ada tidaknya paparan radiasi yang berbahaya bagi masyarakat. Apalagi radiasi adalah sesuatu yang tidak berbau, tidak terasa dan tidak kasat mata sehingga membutuhkan alat khusus untuk mendeteksinya.

"Jadi artinya ini malah lebih berbahaya daripada ancaman-ancaman lain yang mungkin timbul untuk suatu wilayah perkotaan mungkin kalau saya ibaratkan radiasi ini mirip COVID-19, juga sama kita tidak tahu virusnya ada di mana sebesar apa tahu-tahu kita yang terpapar ya setelah melalui 'testing' (pengujian)," katanya.

Menristek mengapresiasi bahwa Bapeten menggunakan peralatan yang dimiliki untuk bisa mendeteksi secara cepat adanya paparan radiasi yang melewati batas normal yang ditemukan di akhir Januari 2020 di Perumahan Batan Indah.

Paparan radiasi tersebut dideteksi dengan menggunakan alat pemantau radioaktivitas lingkungan bergerak atau Radiation Data Monitoring System (RDMS)-MONA saat Bapeten melakukan pemantauan radioaktivitas lingkungan di sejumlah wilayah termasuk di Perumahan Batan Indah. Alat itu dimiliki Bapeten sejak 2013 untuk keperluan kesiapsiagaan nuklir.

Paparan radiasi tersebut berasal dari limbah radioaktif Cesium 137 yang dibuang sembarangan oleh oknum tertentu.

Selain peningkatan pemantauan radioaktivitas di lingkungan, Menristek Bambang mengatakan pengawasan untuk keselamatan dan keamanan nuklir juga menjadi penting ditingkatkan.

Pengawasan untuk keamanan dan keselamatan utamanya dilakukan terhadap penggunaan reaktor nuklir yang ada di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong. Keamanan dan keselamatan itu juga harus selalu dijamin Badan Tenaga Nuklir Nasional.

"Kami sudah meminta kepada Bapeten untuk lebih mengintensifkan monitoring dari kondisi radioaktif yang ada di seputaran kawasan Puspiptek dan juga kompleks perumahan yang berada di tidak jauh dari Komplek Puspitek," kata Bambang PS Brodjonegoro.

Kepala Bapeten Jazi Eko Istiyanto mengatakan detektor nuklir dan teknologi canggih sangat berperan penting dalam rangka mendukung fungsi pengawasan yang dilakukan oleh Bapeten. Peranan teknologi canggih seperti Radiation Data Monitoring System (RDMS)-MONA sudah terbukti dalam penemuan paparan radiasi tinggi di Perumahan Batan Indah.

Jazi mengatakan RDMS-MONA memiliki sensitivitas tinggi dalam menemukan paparan radiasi.

"Radiasi ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, tidak dapat dicium, tidak dapat dirasa dengan panca indra dan hanya bisa dideteksi dengan detektor nuklir maka peralatan deteksi berteknologi tinggi sangat krusial dalam pengawasan nuklir," katanya.

Selain dukungan teknologi, kegiatan pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir dan pemantauan radioaktivitas lingkungan juga memerlukan dukungan sumber daya manusia yang memadai, demikian Jazi Eko Istiyanto

Untuk itu, Bapeten berupaya untuk selalu meningkatkan kemampuan pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir melalui peningkatan kompetensi personal serta kualitas alat utama sistem pengawasan.

Baca juga: Setelah dapat izin Bapeten, BATAN akan proses tanah terpapar radiasi

Baca juga: BAPETEN: Fasilitas radiasi di RSCM aman meski terdampak banjir

Baca juga: Dua orang terkontaminasi cesium tapi aman secara medis, sebut Bapeten

Baca juga: Paparan radiasi di Perumahan Batan Indah kian menurun, sebut Bapeten
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020